Sekali-sekali boleh yha saya curhat? lagian siapa yang melarang?? katanya DEMOKRATIS . . ^^
Sejenak merenungkan kata-kata seorang sahabat, saudara mungkin bisa dibilang demikian. Dia mengatakan betapa uniknya proses pendewasaan itu, karena setiap orang berbeda. Setiap orang memiliki cara yang mungkin hanya dikaruniakan Alloh untuknya. Berusaha, mencari arti dengan hati yang tenang, perlahan, agar fisik dan mental kita siap dengan perubahan-perubahan itu. Tidak perlu maksa, apalagi ngoyo. . .
Saya akui memang selalu ingin meraih sebuah mimpi, cita-cita, tujuan hidup, kebutuhan manusiawi, atau apalah itu. Sebuah niat hati yang terus mengusik. Inginnya segera saya selesaikan agar tak lagi mengganggu pikiran, menyita tenaga, dan mengoyak jalan ikhtiar dalam hidup ini.
Hati (semoga bukan nafsu, naudzubillah. .), dia yang kadang terus memaksa saya terus meronta-ronta mencari jawabannya, malakukan segala cara untuk menghancurkan penat. Agar tak lagi berat di kepala. Agar cita-cita itu segera terpecahkan, seperti atlet lari yang berusaha sekuat tenaga berlari demi memecahkan rekor waktu tercepat. Agar rasa penasaran itu tak ada lagi.
Seluruh organ dalam tubuh seolah berkeras menjalankan komando dari hati. Hingga kadang banyak pertimbangan yang tertinggal. Dengan entengnya menganggap selain cita-cita itu bukanlah persoalan yang patut diprioritaskan. Betapa jahatnya, egois, bukan sikap seorang yang dewasa. . Menilai orang seenaknya, menganggap kebaikan hanya pada apa yang baik dilihat. .
Lalu saya pun mendengar sebuah kalimat yang kembali menantang arogansi hati “Ubahlah Mainstream-mu kawan, jadilah pemenang di setiap pertandingan!!” pertandingan macam apapun itu, adalah sudut pandang kita yang berbeda. Yang pasti mengubah mainstream, adalah sebuah cara untuk kembali berpikir. . melawan diri sendiri. Mengubah mainstream terhadap sesuatu atau seseorang bukanlah persoalan mudah, memang. Apalagi menyangkut cita-cita saya. Tapi entah dari mana keyakinan itu, mungkin sudah waktunya saya mundur dahulu satu langkah. Mundur untuk mematangkan bekal saya kembali berlari. Untuk sekarang, biarlah hati ini yang berlari, untuk tetap mempertahankan semangat meraih cita-cita itu. Tapi tak akan saya biarkan seluruh jiwa mengangguk atas perintah hati seperti kemarin. Calm down, siapkan amunisi perang lebih penuh. .. ..

catatan :
Untuk Anda yang tengah berada pada suasana hati yang sama, semoga ini sedikit membantu. Apapun yang sedang Anda kejar, cita-cita yang sama dengan apa yang saya maksudkan ataukah berbeda. Semoga Alloh mengistiqomahkan kita pada kebenaran, kesungguhan hati, serta tentu keimanan kita pada-Nya.
Dari Abu Hurairoh ’Abdurrohman bin Shakhr rodhiyallohu’anhu, dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda: ” Apa saja yang aku larang bagi kamu hendaklah kamu jauhi, dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu maka lakukanlah sesuai kemampuanmu. Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi nabi-nabi mereka (tidak mau taat dan patuh).” (HR. Bukhori dan Muslim)
malah ngerusak? Namanya sama aja milih air seni daripada jus jambu untuk memenuhi kebutuhan vitamin C. Dunia sudah benar-benar kebalik-kah? Monggo Mas Raditya Dika, pilih yang mana.. moga2 bukan karena keblinger karena pernah sukses dengan film sebelumnya.

Saya ndak ingin bahas terlalu banyak soal gimana2nya program ini, toh sudah banyak yang tau kalo pernah menyaksikan langsung Mas Choky dan Mba Yuanita membawakan show ini. Atau kalo mau lebih jelas yha main2 saja ke webnya yang rame dikunjungi jomblowan jomblowati metropolitan itu. Yang ingin saya bahas, setidaknya menggelitik hati adalah keterlibatan seorang ustad di program tersebut.



Ingat dengan Syekh Siti Jenar? Seorang kafir yang menyebarkan paham Manunggaling Kawula Gusti itu menyesatkan penduduk Jawa dengan ajarannya. Ia kemudian tewas karena dibunuh Walisongo. Tulisan ini tidak akan membahas mitos2 klenik seputar kehidupan Syekh Siti Jenar, tetapi tentang ajarannya yang memiliki sifat mirip dengan tasawuf.
Komentar-komentar