Cerita ini dimulai tiga belas tahun yang lalu, di sebuah kota kecil yang sejuk bernama Magelang. Riuh gelak tawa anak-anak usia enam sampai tujuh tahun terdengar di balik tembok sekolah. SD Negeri Kramat 2 Magelang tulisan itu terpampang jelas di papan nama sekolah itu. Saat itu tahun ajaran baru dimulai.
Seperti sekolah-sekolah yang lain murid baru berdatangan. Ada yang sudah berani berangkat sendiri, ada pula yang masih malu-malu ditemani sang ibu. Tapi semua terlihat senang memakai seragam putih merah yang mulai hari itu harus mereka kenakan. Tak terlalu banyak orang tua yang memilihkan SD ini untuk anak mereka. Entah mungkin karena letaknya berada di pinggiran sawah, statusnya sebagai SD lokal, atau keadaannya kurang memadai. Yang pasti ada alasan yang tak sama.
Sekitar tujuh belas anak masuk di kelas satu. Mereka berasal dari kampong-kampung dan perumahan sekitar SD. Wajah mereka masih lugu dan sederhana. Beberapa anak perempuan memakai jepit warna-warni di sela-sela rambut mereka. Sesekali ibu guru mengingatkan agar mereka memperhatikan pelajaran bukan malah bermain sendiri.
Hari pertama diawali dengan pelajaran berhitung. Bu Wid mengajari mereka dengan menggunakan butiran-butiran menyerupai telur disusun seperti menara. Kemudian Pak Sugeng mengajak anak-anak bernyanyi Naik-naik ke Puncak Gunung diiringi petikan gitar indahnya. Sedangkan Pak Efan memberikan pelajaran membaca Al-Qur’an. Sungguh hari yang sangat menyenangkan. Langkah-langkah pulang masih diselingi tawa riang.
Tujuh belas anak, orang-orang memang kadang meremehkan. Jumlah yang terlalu sedikit dibandingkan SD favorit lain di Magelang. Tapi itulah kehidupan mereka. Setiap hari bersama menjalani hari-hari di sekolah. Pelajaran olah raga merupakan pelajaran yang paling ditunggu. Pak Yuli dengan penuh kesabaran mengarahkan mereka bagaimana cara bersenam yang baik.
Tahun-tahun berikutnya, anak-anak mulai belajar berbagai hal. Kelas dua mereka diajar oleh guru kelas yang berbeda. Pak Prasodjo membimbing mereka di kelas dua, Bu Purmawarti yang mewajibkan hafal perkalian di kelas tiga, Bu Katirah di kelas empat, cerita-cerita dari Bu Im saat kelas lima, dan Pak Ardani yang mengantarkan mereka ebtanas di kelas enam.
Segala cerita tentang masa kecil mereka mungkin tak cukup untuk dituliskan dalam satu buah buku saja. Dari bolo-boloan, menangis karena saling mengejek, sukacita menjadi juara harapan di beberapa lomba antarsekolah, senangnya menjelajahi sawah menuju lapangan gedung olah raga, hingga semangat belajar bersama menjelang Ebtanas.
Sayang formasi tujuh belas menyusut menjadi empat belas orang saja. Tujuh anak perempuan dan tujuh anak laki-laki di kelas enam. Mereka yang bertahan di SD Kramat 2 hingga lulus. Dan ketika mereka harus berpisah banyak kenangan tertinggal yang mungkin tak diduga kelak akan sangat mereka rindukan.
****
Tujuh tahun berlalu. Hari-hari panjang sejak mereka tak lagi duduk di kelas yang sama. Entah mengapa kerinduan menyesak di dalam hati. Rindu akan persahabatan tulus semasa SD. Rindu akan cacian dan tawa yang menghiasi saat-saat indah kala itu. Baru saja mereka sadari telah melupakan kenangan berharga yang telah mereka lalui.
Rabu, 19 Desember 2007, hujan cukup deras membuat hati gelisah. Mereka telah berjanji untuk bertemu kembali. Apakah Tuhan belum mengijinkan mereka kembali merajut benang-benang persaudaraan yang sempat terurai?
Mereka akhirnya datang sekitar pukul lima sore. Ada Adit dengan kacamata tebal bercerita tentang kelas internasionalnya, ia kini berada satu kampus dengan Wilis di UII. Nunung masih terlihat kental dengan sifat pemalunya. Mayang dan Tetra masih saling mengolok-olok meski mereka juga satu kampus di UGM dengan jurusan berbeda. Juni sedang mengikuti training perhotelan di Jogja. Sementara Mauren, masih menjalani PKL karena masa SMAnya di SMK Pembangunan 4 tahun. Test masuk kepolisian sedang diikuti Indra yang memutuskan tidak kuliah. Dian masih paling cantik di antara mereka, ia mengambil jurusan akuntansi di AA YKPN. Trianto masih betah di Magelang melanjutkan di UMM.
Empat orang lainnya tak bisa datang. Taruna masih terhalang hujan di Jogja, saudara Tia sedang meninggal, Tari yang belum pulang dari Jakarta, dan terakhir Nita yang tak ada kabarnya.
Oh, betapa seolah pelangi memayungi mereka sore itu. Semoga persahabatan itu terus terjaga…
I remember…When we caught a shooting star, yes I remember
I remember.. All the things that we shared, and the promise we made, just you and I
I remember.. All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn
Do you remember..?
When we were dancing in the rain in that december
And I remember..When my father thought you were a burglar
I remember.. All the things that we shared, and the promise we made, just you and I
I remember.. All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn
I remember.. The way you read your books,
yes I remember
The way you tied your shoes,
yes I remember
The cake you loved the most,
yes I remember
The way you drank you coffee,
I remember
The way you glanced at me, yes I remember
When we caught a shooting star,
yes I remember
When we were dancing in the rain in that december
And the way you smile at me,
yes I remember
***

0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Tinggalkan Komentar