Jam menunjukkan pukul empat lebih lima menit. Saya melangkah dari halaman kampus menuju halte. Tempat biasa dijemput kalau pulang kuliah sedikit sore. Mengisi waktu luang, saya membaca sebuah buku yang baru tadi pagi dipinjam dari perpustakaan fakultas. Lalu lalang kendaraan motor hingga bus kota tidak menjadi masalah bagi saya meski harus menunggu sampai pukul lima kurang, saat mobil pakle’, bule’, dan adik sepupu saya menjemput.
Mencoba berulang kali memusatkan perhatian pada buku tersebut sepertinya tidak berhasil saya lakukan. Meskipun saya hanya sedang mencari halaman-halaman yang akan digunakan sebagai referensi tugas ujian tengah semester pekan depan. beberapa pikiran menggelayuti kepala membuat saya kadang bingung dan kesal sendiri. Kadang saya merasa lelah, bosan dengan rutinitas yang harus dijalani belakangan ini. hhhhuhhh…
entah kapan dan dari mana datangnya, ada lima orang anak jalanan berusia sekitar empat sampai tujuh tahun sudah berada di pinggir jalan dekat halte. Mereka berteriak-teriak sambil mencegat bus kota. Menurut ke-sok tahuan saya, mereka sedang mengamen di sebuah bus kota namun kemudian terpaksa turun di wilayah kampus karena diusir kernet. Lalu sekarang mereka mencari tumpangan pada bus berikutnya untuk pulang.
Berkali-kali usaha mereka tak menemui hasil. Seakan semua bus kota yang melintas tidak ingin menerima. Seorang anak hampir saja terjatuh saat tidak berhasil meraih badan bus kota yang melaju kencang. ternyata mereka pun tak kurang akal. Meminta tolong pengendara sepeda motor yang sebagian pengendaranya mahasiswa untuk menumpang. Belum juga ada yang berbaik hati mengantar mereka ke tempat tujuan. mereka masih sempat bercanda sambil berkejaran. Anak laki-laki lain yang paling kecil berhasil naik lalu meninggalkan kawan-kawannya. Sementara satu-satunya anak perempuan melanjutkan teriakannya “Pak, nunut tekan Selokan Mataram!”. Masih saja penolakan yang mereka dapatkan.
Saya yang melihat tingkah polah mereka terhanyut dalam pemandangan itu. Sayang saya pun tidak dapat berbuat apa-apa. saya memang tidak tahu secara mendalam tentang keidupan anak jalanan. Terpikir bagaimana kesempatan bermain dan belajar tidak mereka dapatkan. Lalu saya berpikir tentang diri sendiri. Betapa nyamannya setiap hari dijemput dengan mobil ber-AC tanpa harus lama-lama menunggu bus Kota. Mereka saja tetap gembira dan tidak malas tiap hari berangkat mengamen, lepas dari apakah mereka memang dipaksa mengamen atau tidak. Sedangkan saya dengan beban yang tidak seberapa berat lebih sering mengeluh daripada bersyukur. Seharusnya saya malu…
4 tanggapan so far ↓
Zulfi // April 1, 2008 pada 5:18 am
Dulu juga aku pernah punya posting seperti itu. tapi, berhub di blog lamaku (di friendster) udah aku hapus jadi hilang deh.
Betul, kadang kala kita lupa thd segala kenikmatan ini
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Ibrahim:7
Mempelajari Kehidupan di Perempatan Jalan « Berbagi makna dalam memahami kehidupan // April 1, 2008 pada 9:29 pm
[...] ini postingan lama di blogku yang terdahulu (di friendster). Namun, berhubung ada seorang kawan yang juga membicarakan kepiluan hatinya melihat kondisi anak-anak jalanan. Maka, tidak ada salahnya jika posting ini aku revisi [...]
oRiDo // April 2, 2008 pada 11:43 am
endonesia.. endonesia..
dimana2 banyak terlihat anak jalanan…
hhhh…
Maey Moon // April 3, 2008 pada 1:35 pm
apa Indonesia ga bisa tanpa mereka yha…?
Tinggalkan Komentar