Catatan Tentang Syariat Islam

Sejarah tak pernah mati. Ia tidak hanya tergantung pada sebuah fakta. Ada sebuah pencerahan ketika terdapat fakta baru menggantikan fakta lama.

Hal itu disampaikan oleh seorang budayawan dari Fakultas Ilmu Budaya UGM dalam dialog bedah buku “Trilogi Kepemimpinan NII” yang dilangsungkan Sabtu, 13 September 2008 lalu di Masjid Syuhada, Kotabaru, Yogyakarta.

Sebuah fakta sejarah baru terungkap dalam buku yang ditulis oleh Irfan S. Awwas. Ada sebuah kebohongan publik yang selama ini digembar-gemborkan dalam berbagai buku sejarah tentang Kartosuwiryo, dan dua pemimpin ‘pemberontakan’ Negara Islam Indonesia. Selama ini sejarah RI menyebutkan bahwa NII adalah usaha yang dilakukan oleh segelintir orang yang menghalang-halangi terwujudnya NKRI. Mereka melakukan pemberontakan dengan mengusung syariat Islam yang mengancam asas-asas Pancasila.

Penulis membeberkan latar belakang SM Kartosuwiryo dkk melancarkan pemberontakan di sejumlah daerah di Indonesia. Persaingan terjadi antara Nasionalisme sekuler dan Nasionalisme Islam sejak tahun-tahun menuju kemerdekaan. Mereka memperdebatkan ideologi apa yang akan dianut bangsa Indonesia bila merdeka nantinya. Pihak nasionalis sekuler mengusung ide nasionalisme dari negara barat sedangkan pihak nasionalis Islam menginginkan ideologi nasionalis yang tidak melanggar syariat Islam.

Sejurus kemudian terbentuklah BPUPKI. Rumusan Pancasila yang disampaikan Drs. M. Hatta merupakan bentuk akomodasi yang sesuai untuk menengahi kepentingan di antara dua aliran nasionalis. Rumusan Pancasila kala itu menyebutkan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Namun beberapa saat setelah itu timbul perdebatan hingga dihapuskan tujuh kata dalam sila pertama yang sekaligus menunjukkan keberpihakan pendiri negara ini pada kaum nasionalis sekuler.

Penghapusan kalimat “..dan Kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” hingga saat ini masih menimbulkan polemik. Alasan yang melatarbelakanginya pun masih diragukan. Sejarah menyebutkan adanya intervensi dari dua orang opsir Jepang kepada M. Hatta (hingga wafatnya, bung Hatta tidak menyebutkan secara jelas kedua opsir tersebut). Kedua opsir mendapat pesan dari Pemimpin negara-negara di wilayah Indonesia timur berupa sebuah ancaman, apabila tujuh kata pada sila pertama tidak dihapuskan, mereka akan memisahkan diri dari Indonesia.

Kekecewaan para mujahid Islam memuncak karena Indonesia terlihat masih ‘patuh’ pada lobi-lobi asing. Mereka yang menganggap perjuangan selama ini sebagai sebuah jihad merasa para founding fathers mempermainkan kepentingan rakyat. Maka dapat dipahami bila setelah itu, timbul reaksi Kartosuwiryo. Ia melakukan gerakan-gerakan bawah tanah untuk memperjuangkan kembali tegaknya keadilan bagi masyarakat dengan syariat Islam melalui gerakan NII.

***

Pelaksanaan syariat Islam hingga hari ini masih menemui pertentangan. Padahal Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk Islam terbesar. Dan ironisnya, penolakan yang paling kuat berasal dari orang-orang islam sendiri. Mengapa?

Uztad Irfan S Awwas menyebutkan alasannya : pertama, banyak orang Islam di Indonesia belum benar-benar menegakkan ideologi Islam itu sendiri, mereka lebih nyaman hidup dalam sekularitas (pemikiran ini diwariskan dari para tokoh pendiri bangsa yang diduga menganut sekularisme barat, memisahkan agama dari kehidupan beragama). Kedua, komunis dirasa lebih dekat daripada Islam, terbukti bahwa komunis pernah ikut menjalankan pemerintahan di masa Soekarno. Ketiga, sebagian besar insan militer (yang beberapa di antaranya kemudian menjadi pemimpin negara) merupakan didikan barat (Belanda) yang jauh dari nilai-nilai Islam.

Indonesia belum merdeka selama intervensi asing masih mencengkeram bangsa ini. Kalau demokrasi saja tak mampu memberikan kemakmuran bagi masyarakat, mengapa tidak mengapa tidak mencoba penerapan syariat Islam??

About these ads

6 responses to “Catatan Tentang Syariat Islam

  1. Sepertinya pembicaraan Pak Irfan dia base on buku tulisannya yang berjudul Jejak jihad S.M. Kartosuwiryo

    Kebetulan aku punya…. secara sederhana bukunya emang provokatif utk sekedar memicu ghirah kita membuktikan bahwa bangsa ini memang berhutang banyak pada kaum muslimin… fakta yang memang seringkali ditutup2i…

    Oh ya, bentar lagi dijamin akan ada kontroversi baru antar kaum sekuler-nasionalis vs agamis… apa itu? UU APP..

    Mari kita tunggu…

  2. …kupikir kita harus menguak sejarah yang selalu dibungkam dari orde ke orde di negeri ini….padahal jk saja negeri ini mau menggunakan ideologi Islam…dunia akan milik kita

  3. Ideologi Islam yang seperti apa, fik?
    Seringkali kita berbicara ideologi Islam, Negara Islam, tapi pembicaraan kita masih “melangit”. Seperti berbicara pada diri sendiri, dan menganggap semua orang sudah paham syariah secara komprehensif. Padahal fakta di lapangan tidak seperti itu…

    Berbicara ideologi Islam, tentu juga berbicara tahapan (marhalah) menuju terciptanya kondisi tsb… Sehingga tidak bisa ada instan-isme dalam hal ini

  4. ya, sama saja kalau tidak ada penerapan,..

    memahamkan masyarakat dulu yha?

    mungkin dengan membuka aib2 demokrasi,..

    (ehm, kenal tho sm msZulf?,…)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s