Dinamika Fungsi Komunikasi di Indonesia

 

Setiap orang memiliki hasrat untuk berbicara, mengungkapkan pendapat, dan memperoleh informasi. Atas alasan itu terciptalah apa yang dinamakan proses komunikasi. Komunikasi di Indonesia tak diragukan lagi telah mengalami perubahan cukup signifikan meskipun perkembangannya tidak sepesat negara-negara lain yang lebih maju seperti Amerika sebagai pusat informasi dunia, negara-negara Eropa, bahkan mungkin negara tetangga kita sendiri seperti Malaysia. Perkembangan komunikasi merupakan juga perubahan sarana komunikasinya sendiri. Penggunaan radio, surat, telegram, televisi, kini hampir tergantikan oleh handphone, komputer, hingga internet. Disadari ataupun tidak kita sudah terseret oleh arus zaman globalisasi. Hal ini tentu menuntut keterbukaan di segala bidang termasuk bidang komunikasi. Bila melihat ke beberapa dasawarsa lalu, komunikasi masih sederhana. Sebagian besar bersifat satu arah sehingga komponen yang terlibat dalam sebuah proses komunikasi tidak banyak. Proses tersebut hanya melibatkan seseorang atau kelompok sebagai komunikator dan pihak lain sebagai pendengar. Berbeda halnya dengan saat ini, ketika muncul era reformasi dan timbul berbagai inovasi baik dari kalangan ahli maupun pelaku komunikasi itu sendiri.

Dari segi limu, komunikasi sejak zaman Yunani mulai digunakan manusia untuk mempermudah terwujudnya kepentingan mereka. Ilmu tersebut dikenal dengan ilmu retorika. Sejarah komunikasi menjadi sebuah ilmu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sama halnya dengan cabang ilmu lain, ilmu komunikasipun harus melalui penelitian-penelitian sehingga pada waktunya baru dapat disebut sebuah ilmu. Menurut Sendjaja (1997), ilmu komunikasi sudah mulai diajarkan pada perguruan tinggi akhir tahun 1940-an dengan adanya Akademi Penerangan di Yogyakarta yang kemudian menjadi jurusan Publisistik di Fisipol UGM mulai tahun 1955. Perkembangan dunia komunikasi di Indonesia memang terbilang lebih lambat daripada negara seperti Amerika. Hal ini dikarenakan beberapa alasan yaitu bahwa di Amerika: memiliki kebutuhan praktis terhadap kajian komunikasi, perhatian yang besar terhadap penelitian ilmu komunikasi, serta adanya pengujian-pengujian kembali (diseminasi) sehingga komunikasi mengalami proses kemajuan yang diharapkan1.

Secara lebih spesifik, seiring dengan perkembangan ilmu komunikasi, fungsi komunikasi juga mengalami dinamika. Ketika retorika mengalami kejayaan pada 5 SM, kaum sofis Yunani menggunakan pidato untuk mempengaruhi khalayak dan mendapatkan simpati mereka. Perlu diingat saat itu sistem politik mereka adalah demokrasi langsung. Kepandaian para pemimpin berpidato dapat mempengaruhi wibawa di mata rakyat. Pada masa Perang Dunia II, bentuk komunikasi berupa pidato lebih mendominasi dibanding bentuk komunikasi lainnya. Pidato digunakan oleh Adolf Hitler untuk mengunggulkan bangsanya sendiri sekaligus menakut-nakuti lawan2. Pada intinya fungsi komunikasi kala itu bertujuan untuk mempengaruhi orang lain.

Di Indonesia, komunikasi mengalami pasang surut. Perubahan fungsi komunikasi lebih terekspos semenjak masa Orde Baru hingga reformasi tahun 1998. Di masa Orde Baru, media-massa sebagai salah satu sarana komunikasi banyak mendapat dikte dari penguasa untuk mengendalikan konflik sosial yang kerap terjadi melalui berita-berita. Pers lebih banyak mengungkapkan realitas psikologis atau pendapat daripada fakta di lapangan. Fakta-fakta tersebut banyak disembunyikan agar pers tidak mendapat teguran dari penguasa3.. Jadi tidak salah bila orang-orang menganggap pers saat itu hanya merupakan alat pengusa. Fungsi-fungsi komunikasi yang seharusnya tidak dapat berjalan. Sekali media melakukan sebuah tindakan yang tak sesuai kehendak pemerintah terpaksa dibredel, seperti yang dialami harian TEMPO kala itu.

Memasuki masa transisi demokrasi atau lebih tepatnya reformasi, keterbukaan menyampaikan pendapat mendapat dukungan dari semua pihak. Pers seakan bebas dari ikatan yang selama bertahun-tahun membelenggu mereka. Pers memenfaatkan fungsi kontrol mereka untuk menyerang balik pemerintah, membuka semua kebobrokan pemerintah yang lalu. Hal tersebut membawa dampak positif, namun juga tidak dapat dihindarkan dari dampak negatifnya. Memang reformasi membuka kesempatan pers sebagai kontrol pemerintah, Namun kecenderungan negatif muncul ketika pers berpihak kepada kelompok tertntu, memanaskan situasi yang terjadi, menonjolkan unsur kekerasan di beberapa pemberitaan di media massa. Sehingga terkadang menimbulkan konflik yang lebih serius4.

Perkembangan komunikasi di Indonesia mendorong semakin banyak kebutuhan akan informasi. Dulu, stasiun TV di Indonesia hanya dapat dihitung dengan lima jari, sekarang menjamur bermacam stasiun TV swasta baik nasional maupun lokal di daerah-daerah. Fungsinyapun kini meluas dengan adanya penyiaran yang bervariasi. Masyarakat lebih terbuka terhadap pemerintah dengan adanya dialog-dialog interaktif. Lalu bagaimana fungsi komunikasi terhadap pembangunan? Fungsi komunikasi dengan komunikatornya memberi kontribusi terhadap pembangunan nasional karena secara umum mengubah sikap dan perilaku manusia Indonesia sebagai peran pembangunan5.

Fungsi pers pada dasarnya adalah: to inform, to educate, to entertain, dan to influence. Keempat fungsi tersebut sejalan dengan fungsi-fungsi komunikasi. Komunikasi sendiri memiliki fungsi yang berbeda sesuai konteks komunikasi, yaitu: Komunikasi sosial, digunakan untuk pernyataan konsep, eksistensi diri, dan memperoleh rasa kebahagiaan. Komunikasi ekspresif, digunakan untuk menyalurkan emosi dan pendapat. Komunikasi ritual, biasanya digunakan secara kolektif seperti ritual keagamaan. Sedangkan komunikasi instrumental, memiliki tujuan-tujuan tertentu mengacu pada fungsi-fungsi pers di atas. Fungsi utama komunikasi sebenarnya adalah untuk ‘membujuk’6. Sebagaimana yang dikatakan Carl I Hovland dalam bukunya Personality and Persuabilities menyebutkan bahwa efek persuasi bersumber kepada perubahan sikap, pendapat, persepsi, serta efek itu sendiri. Namun mudah atau tidaknya seseorang terpengaruh tergantung pula kepada apa yang ada dalam individu itu sendiri.

Euforia kebebasan pers di Indonesia berlangsung begitu cepat. Semua orang menginginkan hukum ditegakkan dan mengubah seluruh sendi-sendi kemasyarakatan yang dilanggar ketika Orde Baru berkuasa. Hanya berselang beberapa tahun saja, semangat itu meluntur tanpa menghasilkan perbaikan yang diinginkan. Apakah ini sebuah tanda bahwa rakyat telah bosan dan lelah terus memperjuangkan tujuan negara yang sering mereka gelorakan di masa reformasi?

Pers yang dulu pernah bercita-cita mengubah bangsa dengan kode etiknya ternyata malah mengeksploitasi kebebassan pers sebagai senjata. Dalam Kode Etik Wartawan Indonesia tertulis:

Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis, dan cabul, serta tidak menyebutkan identitas kejahatan susila”

pada butir lain juga disebutkan:

Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak menyalahgunakan profesi”

Namun bila melihat kenyataan saat ini, begitu banyak penyimpangan yang dilakukan oknum pers. Mulai dari penyebaran berita yang belum pasti kebenarannya (sering disebut gossip) hingga perluasan pengaruh melalui media massa. Pada akhirnya sulit untuk menyatakan suatu berita benar-benar fakta yang bersifat objektif atau hanya berdasarkan subyektivitas dan kepoentingan penulis berita. Wriston (1996:1)

Revolusi informasi sedang mengubah bentuk dan arah peristiwa-peristiwa nasional dan internasional secara mendasar.”

Revolusi informasi adalah ancaman bagi struktur kekuasaan dunia. Artinya siapa yang menguasai informasi bukan tidak mungkin ia akan menguasai dunia dengan pengaruh yang dapat ditimbulkannya melalui proses komunikasi. Bila kita tidak mengikuti arah perubahan maka kita akan semakin tenggelam hingga tak mampu lagi menahan pengaruh dari dunia luar.

Fungsi komunikasi akan terus berkembang selama ilmu komunikasi itu ada. Dan komunikasi akan terus ada selama manusia masih ada seperti hubungan yang telah disebutkan di awal penulisan. Apalagi sekarang perubahan terjadi begitu cepat dan lagi-lagi karena dampak globalisasi. Agar tidak terpengaruh aspek negatif globalisasi, apa yang dapat kita lakukan?

Kembali memahami fungsi komunikasi merupakan salah satu solusi yang tepat. Karena dengan kita memahami apa fungsi komunikasi, kita dapat menentukan langkah-langkah apa yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi setiap tantangan dalam proses bernegara, mengetahui dampak negatif, dan menghindarkannya dari tujuan berkomunikasi. Dengan memahami fungsi komunikasi, kita juga dapat mengembalikan peran komunikasi sebenarnya, sehingga segala sesuatu yang menghambat proses komunikasi dapat dihilangkan.

***

Referensi

Mulyana, Deddy.2004. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung:Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Deddy.2004. Komunikasi Populer, Kajian Komunikasi dan Budaya. Bandung:Pustaka Bani Quraisy.

Ngurah Putra, IG.___. “Perkembangan Ilmu Komunikasi di Indonesia, Catatan di Sekitar Kendala”

Uchjana Effendy, Onong.1994. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung:Remaja Rosdakarya.

1Perkembangan Ilmu Komunikasi di Indonesia, Catatan di Sekitar Kendala” oleh IG. Ngurah Putra.

2Onong Uchjana Effendy,Imu Komunikasi: Teori dan Praktik(Bandung:Remaja Rosdakarya, 1994),hal.57.

3Deddy Mulyana,Komunikasi Populer, Kajian Komunikasi dan Budaya(Bandung:Pustaka Bani Quraisy,2004),hal.121 et.seqq.

4ibid.,hal.125

5Effendy,op Cit,hal.94

6 Deddy Mulyana,Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar(Bandung;Remaja Rosdakarya,2004),hal.5 et seqq.

 

 

pernah digunakan untuk memenuhi tugas UTS

12 responses to “Dinamika Fungsi Komunikasi di Indonesia

  1. Haha, salah satu tugas kuliah yg jadi bahan blog ya?

    kalau punyaku tak sendirikan, di blog khusus.
    alamatnya zulfiblog.wordpress.com
    tapi, masih agak terbengkalai…😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s