Setitik cinta untuk Izzah….


Pagi itu rintik-rintik hujan masih enggan mereda. Seorang gadis tengah sibuk menyelesaikan tugas kuliah sambil menyenandungkan lagu kesukaannya

Kau begitu sempurna

Di mataku Kau begitu indah…”

Lagu itu baginya bukan sekadar lagu cinta biasa. Lagu itu sering mengingatkannya kembali pada yang Mahakuasa.

Noorul Izzaty, nama gadis manis berjilbab itu. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi sorang pegiat seni dan budaya. Maka dari itu ia memutuskan mengambil studi Sastra Jawa setahun yang lalu setamat SMA. Izzah, begitu namanya dipanggil sayang oleh keluarganya yang islami membesarkannya di kota Solo.

Masih terdengar petikan lirik indah Andra and the Backbone yang sengaja ia putar kembali. Kali ini sudah yang ketiga kali. Izzah baru merasa punya dunia lain ketika handphonenya menerima sebuah panggilan. “Assalamualaikum, …. Ohya! Maaf, Mbak Nana, saya hampir lupa. Saya usahakan segera datang setengah jam lagi,” ucapnya teringat akan agendanya hari ini. Segera ia meneliti kembali tugas menerjemahkan sebuah novel ke bahasa Jawa yang baru saja diselesaikannya. Tugas–tugas semacam itu telah menjadi rutinitasnya dua semester belakangan.

“Umi, aku ada janji datang pengajian di kampus sekarang sama Mbak Nana, mungkin ba’da Zuhur baru sampai di rumah,” Umi hanya mengangguk dan berpesan hati-hati di jalan seperti lazimnya seorang ibu ketika sang buah hati meminta ijin untuk pergi. Izzah mencium tangan ibunya.

Arloji di tangan masih menunjukkan pukul 08.00, acara baru akan dimulai setengah jam lagi. Beruntung bus tidak terlalu lama ngetem di perempatan jalan depan perumahan, jadi Izzah bisa datang tepat waktu.

Mbak Nana adalah kakak angkatan Izzah yang rajin mengajaknya datang ke kajian-kajian rutin seperti hari ini. Ada uztadzah terkenal dari ibukota mengadakan ceramah di Solo. Merekapun tak melewatkan kesempatan langka itu. Izzah memang menjadi lebih alim sejak menyandang status mahasiswi. Tetapi entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa tidak bersemangat. Ada hal yang mengganjal di antara ruang hatinya. Sesuatu yang membuatnya masih saja tidak mengerti. Kata-kata bijak yang terdengar jelas di telinga seolah tak mampu membuyarkan pikirannya tentang seseorang. Seseorang yang baru dikenalnya empat bulan yang lalu. Izzah mencoba memusatkan perhatian namun masih saja ada bagian dari hatinya berbisik mengganggu.

Laki-laki itu bernama Johan. Seorang pekerja kios pengisian ulang air minum. Tidak sengaja, Izzah mengenalnya ketika diminta Umi ke toko tersebut. “Monggo Mbak silakan! Bisa saya bantu?” sosok sederhana itu menyambutnya dengan ramah. “Saya pesan satu galon air minum, tolong diantar ke alamat ini,” Ia membalas dengan senyum dan meyakinkan kembali bahwa Izzah tak akan kecewa. Pertemuan itupun berlanjut karena seringnya Johan mengantar galon-galon air minum ke rumahnya.

Suatu ketika, sore menjelang malam tiba ada sebuah nomor asing yang mengirim sebuah pesan kepadanya.

Gimana Mbak Noorul Izzaty,

sudah ada keluhan langganan di tempat kami? Kalau ada,

jangan ragu-ragu hubungi saya, ini nomor pribadi! (^_^)

By Johan_Zahwa Water.

Dengan menahan senyum, Izzah membalas pesan itu, ternyata ia baru ingat pernah mengisi nama lengkap, alamat, berikut nomor hapenya untuk data pelanggan Zahwa Water.

Entah mengapa selalu ada saja yang mereka bicarakan meski hanya bermedia pesan singkat. Mau tak mau Izzah dan Johan semakin saling mengenal. Mereka menjadi kawan baik di dunia ‘maya’. Johan bagi Izzah adalah pemuda sederhana yang baik, taat beragama dan bertanggung jawab di balik latar belakang pendidikan yang hanya sampai di bangku SMA. Ada rasa simpatik menyelip di hati Izzah, atau lebih dari itu? Iapun tak mengerti..

Hingga suatu hari, peristiwa mengejutkan terjadi. Ya, sebuah perpisahan. Johan harus meninggalkan Solo untuk kembali ke Jogja, kampung halaman tercinta.

Aku sudah ndak kerja lagi di Zahwa, Izz!

Sudah kembali ke Jogja…

Dua kalimat balasan SMS dari Johan itu membuat hati Izzah sepert saat ini. Ia kehilangan, jujur ia merasa kehilangan. Pernah ia begitu berharap Johan adalah seseorang yang selama ini ia cari. Ia bahkan pernah merasa yakin pada kata hatinya, walaupun tak pernah sanggup ia ugkapkan semua itu. Izzah memang bukan penganut paham pacaran seperti remaja-remaja seusianya.

Tidak ada lagi sapaan salam dari balik pagar menandakan pesanan galon air minum baru datang, Tidak ada lagi senyum tulus menyapa saat Izzah datang ke kios Zahwa Water. Kini, Izzah hanya berusaha memahami ucapan-ucapan Mbak Nana atau para uztadzah yang selalu menyejukkan hatinya. Ia berusaha memahami bahwa jodoh telah ditentukan oleh Allah. Sebagai seorang aktivis rohani islam, ia telah mengerti akan hal itu. Namun entah mengapa kali in sulit baginya mengamalkan anjuran-anjuran baik dari orang-orang di sekitarnya.

“Wah, Izzah tampaknya lagi kena VMJ nih, Virus Merah Jambu atau Virus Mencari Jodoh??” mungkin itu reaksi teman-teman seperjuangannya di rohis kampus kalau sampai mereka tahu apa yang tengah ia alami. Karena alasan itu Izzah memutuskan untuk tidak menceritakannya pada siapapun. Termasuk Mbak Nana. “Ufh, aktivis kena VMJ?..” Izzah tertawa dalam hati.

Lama Izzah berharap dapat segera menggantikan rasa kehilangan itu dengan perasaaan yang lebih wajar. Sulit memang. Perasaan itu coba ia bunuh dengan aktif di kegiatan-kegiatan kampus. Perlahan iapun menyadari bahwa tidak bijak menilai seseorang terlalu terburu-buru. Apalagi berharap yang terlalu tinggi padanya. “Aku harus hidup lagi!” tekadnya dalam hati.

***

Tiga tahun berlalu sejak Izzah merelakan sebagian hatinya hilang bersama kepergian Johan. Setitik jiwanya belum dapat ia sirnakan dari bayangan orang yang pernah singgah di hatinya memberikan sebuah keyakinan. Minggu depan ia akan segera diwisuda. Sebuah bagian episode kehidupannya akan segera terlewati.

Siang itu ia sedang menghabiskan waktunya di sebuah perpustakaan yang tidak seberapa ramai. Seseorang mendekatinya. “Apa kabar Izzah,” sapa seorang pria berusia sekitar duapuluh lima tahun menggendong balita yang tertidur pulas. Pandangan Izzah tertuju padanya, wajah itu pernah sangat ia kenal. Wajah teduh dihiasi sebuah senyum tulus yang dulu pernah ia kagumi. Seolah Izzah kembali pada masa itu.

“Ngg… Mas Johan bukan? Maaf saya agak lupa,.” ucapnya memastikan pandangannya tidak salah. Pria itu mengangguk pelan tidak ingin anak dalam gendongannya terbangun. Johan bercerita banyak tentangnya. Ia menikah dua setengah tahun yang lalu dengan teman semasa kecilnya di Jogja. Anak bernama Gilang yang berada di pangkuannya itu adalah putera semata wayang Johan. “Ibunya meninggal saat melahirkan,” kenang Johan sambil menatap dalam ke arah Gilang. Sekarang Johan hanya ingin melakukan yang terbaik untuknya. Meski harus berjuang sendiri, kini ia telah berhasil memiliki jaringan agen pengisian ulang air minum di Jogja. “Sekarang aku sudah jadi bos, bukan pegawai lagi. Alhamdulillah..,” senyum lebarnya kembali terkembang.

***

Mata Izzah tak dapat terpejam hingga larut malam. Pikirannya masih terbayang akan pertemuannya kembali dengan Johan. ‘Ia sudah banyak berubah’ bisiknya di dalam hati. Ia menuju kamar mandi untuk meraih air wudhu, ‘shalat dua rakaat mugkin bisa membuatku lebih tenang’. Malam itu ia mohon petunjuk dari Tuhan, “Ya Allah, bila memang ini jalan-Mu, berikanlah aku sebuah keyakinan,”

Ia segera meraih handphone di atas meja. Ia yakin untuk mengungkapkan semua rasa yang kini masih tertinggal dalam hati. Belum sempat ia mencari nama Johan dalam phonebook, handphone bergetar menerima panggilan dari sebuah nomor yang masih disimpannya. Suara itu pelan, namun entah mengapa terdengar begitu jelas. Suara laki-laki yang tadi siang ia temui,

“Izzah, bersediakah kau menjadi istriku?”

Tetes air mata bahagia deras mengalir di kedua pipi Izzah.

Janganlah Kau tinggalkan diriku

Takkan mampu menghadapi semua

Hanya bersamaMu ku akan bisa

Kau adalah darahku, Kau adalah jantungku

Kau adalah hidupku, Lengkapi diriku

Oh sayangku Kau begitu

Sempurna..

Sempurna, by Andra and the Backbone

————@@————

3 responses to “Setitik cinta untuk Izzah….

  1. Noorul Izzaty, nama gadis manis berjilbab itu…
    Wah, jadi malu teteh sama mbak nurul… teteh bisa jadi kaya dia kagak ya?:-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s