Mengambil Keputusan di Usia Belia

Identitas Buku

Judul : Berani Mengambil Keputusan, Memantapkan Diri Menerima Pinangan di Usia Muda.

Penulis : Evi Ni’matuzzakiyah

Penerbit : Pro-U Media, Yogyakarta

Cetakan I : April 2006

Tebal : 260 halaman

 

Masa muda adalah masa pencarian jati diri. Rasa ingin tahu, egoisme, senang hura-hura merupakan sebagian dari wujud membentuk kepribadian. Kepribadian yang belum stabil cenderung mengarahkan mereka pada hal-hal negatif. Ketidakstabilan mental memang sering menyulitkan seorang remaja bahkan remaja dewasa untuk mengambil sebuah keputusan.

Ketika sebagian pemuda menganggap masa muda adalah masa bersenang-senang, menikah di usia muda ternyata menjadi pilihan bagi seorang penulis muda, Mbak Evi Ni’matuzzakiyah. Pilihan berisiko itu ia rekam dalam bukunya Berani Mengambil Keputusan. Menikah di usia relatif muda bukan sebuah keputusan yang singkat baginya. Seperti remaja pada umumnya Mbak Evi mengalami kegelisahan dalam hatinya. Ia terus mencari jawaban atas kebimbangan-kebimbangan yang kerap menggelayut di pikirannya. Kebimbangan atas konsekuensi yang dihadapi terhadap lingkungan dan studinya. Hingga akhirnya keputusan mulia itu ia ambil. Bukan hal mudah pula untuk menjalani kehidupan pasca pernikahannya dengan M. Nazhif Masykur. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi, mulai dari kekhawatiran akan rizki hingga Mbak Evi yang sering dihinggapi rasa rindu mendalam saat sang suami tak berada di sisinya. Hal ini dapat dipahami karena saat menikah, mbak Evi masih menjalani studi kuliahnya di Gontor sedangkan sang suami tengah menyelesaikan S2 di kota pelajar, Yogyakarta.

Penuturan Mbak Evi dalam Berani Mengambil Keputusan terbagi atas enam bab yang saling terkait dan berurutan. Bab I berisi tentang bagaimana mulanya ia meneguhkan hati untuk hidup mandiri. Menuntut ilmu di Pesantren Modern Gontor Puteri di Ngawi pada tahun 1997. Mengabdikan diri untuk ilmu merupakan tujuan awal yang paling utama. Persoalan pernikahan baru diungkapkan pada akhir bab I dan disambung pada bab II. Terungkap di sini bahwa mbak Evi telah mengadakan pertimbangan-pertimbangan cukup panjang. Sampai suatu hari, ia membaca sebuah hadits yang kemudian menghilangkan kebimbangan hati, “Empat dari sunah semua rasul adalah malu, wewangian, siwak, dan nikah” (HR. At-Tirmidzi). Bab VI merupakan kesimpulan berupa pesan-pesan kepada kawan yang ingin menempuh jalan menerima pinangan di usia muda.

Bagian yang cukup menyentuh adalah sebuah tulisan berisi permohonan doa restu Mbak Evi kepada sang ibunda berjudul Ikhlasmu Mengiringi Langkahku, Ibu… pada halaman 186-188. Beberapa pertanyaan interaktif semacam kuisioner mini juga melengkapi keunikan buku ini. Salah satunya memberikan ujian seberapa kadar cemburu yang kita miliki. Tak lupa Mbak Evi menyelipkan kisah para Shahabat Rasulullah sebagai teladan. Pengalaman para tokoh yang ‘berani mengambil keputusan’ di antaranya Prof.Hidayat Nur Wahid, Aa Gym, Utadzah Yoyoh Yusroh, serta Ibu Sitaresmi Soekanto turut meyakinkan pembaca yang mungkin sedang berada dalam keraguan untuk menikah di usia muda.

Beberapa karya Mba Evi Ni’matuzzakiyah telah diterbitkan oleh Pro-U Media. Salah satunya pernah ditulis bersama sang suami yaitu Cinta Kita Beda (Desember 2005) yang ditujukan untuk remaja atau ABG. Buku ini seakan merupakan kelanjutan dari karya tersebut, tentunya dengan gaya bahasa lebih serius namun tetap indah dan mudah dipahami.

Dibandingkan dengan buku nonfiksi islami bertema pernikahan lainnya, kekurangan buku ini terdapat pada segmen yang kurang meluas. Cenderung mengambil sudut pandang wanita. Alasannya mungkin karena mbak Evi sendiri berada pada pihak wanita dengan perannya sebagai istri.

Namun di balik semua itu, buku ini sebenarnya patut dibaca oleh siapa saja baik yang merasa telah dipinang maupun yang masih menunggu. Paling tidak dapat menjadi referensi tambahan serta memberikan pencerahan bagi para pemuda di tengah kebimbangan dalam menentukan jawaban atas pencarian jati dirinya terutama keputusan untuk menikah di usia muda. Sebuah pernyataan mempertegas;

Kalaupun keindahan akan pernikahan saat bersama memadukan hati dan kasih sayang yang kuat itu menjanjikan akan kebahagiaan, ketenangan, sebagaimana yang dikaruniakan oleh Allah kenapa kita tidak memulainya dari sekarang untuk mengungkapkannya melalui keberanian dan mengambil keputusan?”

*****

2 responses to “Mengambil Keputusan di Usia Belia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s