Ikhlasmu mengiringi langkahku Ibu….!

(semoga saya sempat mengatakannya sebelum menikah nanti..)
Sewaktu masih kecil aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi-sore. Setiap hari, aku dipaksa membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, akupun harus mencuci piring sendiri juga piring bekas masak dan makan anggota keluarga yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengeti mengapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan lepasdari semua pekerjaan masa kecilku.Terima kasih ibu…, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Masih terekam jelas dalam ingatanku, saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-kanak, ia yang mengantarkanku hingga masuk ke dalam kelas. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik bahkan hujan, juga rasa jenuh dan bosannya menunggu.Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.
Kini, setelah aku besar aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepegian. Tak pernah aku menuinguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku, di saat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orrang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.
Di usiaku yang beranjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendy. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter di depannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkanb penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga pehiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya.
Padahal aku juga tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih saying mengajariku berjalan.Ia yang mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku manangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya.Aku yang pintar, cerdas, dan berwawasanseringkali manganggap ibu sebagai orang yang bodoh tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala keperluan kampus lainnya.Usai wisuda sarjana baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apaitu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski ibu bukan orang berpendidikan, tapi doa di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu ibu, aku takkan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju tempat akad nikah. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkanlangkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.
Kini seelah aku sibuk dengan urusan rumah tangga, aku tak pernah menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shalihah dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku menenggelamkan kerinduanku pada inu.
Sungguh kini setelah aku dikaruniai oleh Allah seorang suami, aku baru mengerti bahwa segala kiriman uang setiap bulannya tak lebih berarti disbanding kehadiran ku untukmu.Aku akan dtang, memeluk dan menciummu ibu…., meski tak sehangat cinta dan kasihmu..
Berani mengambil Keputusan
Evi Ni’matuzzakiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s