Lirik Lagu dan Perselingkuhan

Suatu hal yang menggelitik bila kita mendengar tren lirik-lirik lagu belakangan ini. Lirik yang semakin lama semakin kreatif. Lagu cinta misalnya, tak lagi hanya mengangkat permasalahan cinta yang sederhana seperti indahnya jatuh cinta atau sakitnya patah hati. Lebih dari itu, disadari atau tidak telinga kita kini mau tidak mau akrab dengan beberapa lagu bertema perselingkuhan. Hal yang sebenarnya tabu, justru kini muncul di mana-mana dalam bentuk lagu. Sebagai contoh ada lagu yang cukup fenomenal yaitu Ketahuan yang dipopulerkan oleh Matta band asal Bandung dan penyanyi dangdut Uut Permatasari dengan versi dangdutnya. Lagu tersebut mengilustrasikan kisah percintaan antara seorang laki-laki dan perempuan. Klimaks lagu ditekankan ketika sang laki-laki menangkap basah kekasihnya berselingkuh dengan laki-laki lain yang ternyata teman baiknya sendiri. Liriknya berkesan ‘nakal’ segera dikenal luas di berbagai kalangan negeri ini. Mulai dari remaja, pengamen-pengamen jalanan, ibu-ibu, hingga anak kecil yang mungkin belum mengerti apa makna kata-kata dalam lagu tersebut.

Tak hanya Matta band yang tertarik menggunakan tema perselingkuhan sebagai ide penciptaan sebuah lagu. Sebut saja Ungu dengan Kekasih Gelap, Astrid dengan Jadikan Aku yang Kedua, sampai Kangen band yang terang-terangan mencantumkan kata Selingkuh sebagai salah satu judul hitsnya. Masih banyak musisi dalam negeri turut mengekspos ‘hubungan terlarang’ ini. Sepanjang tahun 2007 yang lalu, kita akui tidak sedikit lagu-lagu bertema fenomena selingkuh. Hingga tak heran tren musik dalam negeri tahun lalu dianggap cenderung kepada tren perselingkuhan yang tercermin dalam lirik-liriknya.

Musik di Indonesia, menurut para pengamat musik, memiliki tren sendiri-sendiri setiap tahun sehingga tak berlebihan bila disamakan dengan perubahan tren cerita film, fashion, atau hobi. Perkembangannya pun mengalami proses yang sangat cepat. Dulu musik hanya difungsikan sebagai hiburan. Fungsi musik sebagai ekspresi jiwa manusia memang telah ada namun belum sebebas saat ini. Mungkin beberapa dasawarsa lalu orang-orang masih mempunyai rasa segan (malu) terhadap hal-hal yang tidak baik. Selera masa itu masih sangat dipengaruhi oleh tata karma. Kalaupun ada yang menyinggung kebiasaan masyarakat, para pencipta lagu berusaha mengadaptasinya dalam lirik-lirik puitis. Seperti Hanya Dia milik Diana Nasution, Madu dan Racun yang dibawakan Gombloh, Kau dan Aku Satu, Desmber Kelabu, dan sebagainya sehingga pesan yang muncul tidak blak-blakan. Sebaliknya sekarang lagu apapun sebagian besar bersifat to the point. Kesan yang terasa adalah kata-kata sederhana, jelas, seakan-akan langsung pada sasaran. Jenis musik nyeleneh justru diminati masyarakat. Terlihat dari beberapa fakta, penjualan album meledak dan lagu pun diputar di mana-mana. Lalu mengapa bisa terjadi demikian?

Tren musik erat kaitannya dengan pasar. Musik sebagai salah satu jasa -kalau memang dapat disebut deminkian- selalu mengikuti pasar. Sesuai dengan idiom lama “Di mana ada gula di situ ada semut”. Bagaimana selera musik masyarakat pasti memengaruhi sebagian musisi dalam menghasilkan karya-karyanya. Selama masyarakat menyukai suatu karya di bidang musik misalnnya, maka selama itu pula ia akan bertahan di pasaran. Meski awalnya musisi pun memiliki idealisme dengan cara mempertahankan genre musik sendiri, tidak menutup kemungkinan ia akan mengikuti selera masyarakat. Hal itu terjadi bila penyanyi atau pencipta lagu ingin terus bertahan di mata masyarakat.

Memang tak dapat dipungkiri dunia musik memiliki pengaruh bagi penikmatnya. Orang menikmati musik apabila ia merasa tertarik akan musik tersebut. Seorang remaja yang sedang jatuh cinta pasti lebih suka mendengarkan lagu yang menggambarkan perasaannya. Tidak mungkin ia akan memilih lagu patah hati. Apakah terjadi juga di sini dengan seseorang yang sedang berselingkuh? Ia akan cenderung suka dengan lagu berlirik sesuai apa yang dilakukannya? Sungguh disayangkan. Apabila memang demikian, tidak salah jika musik lama kelamaan telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat itu sendiri. Namun tidak dapat dibenarkan bila ternyata ekspresi bermusik pencipta lagu malah ‘mengajari’ pendengar kea rah tindakan yang negatif, berselingkuh misalnya.

Perselingkuhan dan lirik-lirik lagu dapat dihubungkan menjadi sebuah pola sebab dan akibat. Musisi terinspirasi oleh fenomena selingkuh di masyarakat, sebaliknya sebagian orang yang melakukan selingkuh mengaku terdorong lirik-lirik lagu tersebut. Yang pasti bila dibiarkan terus menerus, ketahuan atau tidak, sudah menikah atau belum, selingkuh tetap merupakan perbuatan yang tidak dibenarkan. Memang belum ada riset pasti tentang hubungan antara tindakan negatif masyarakat dengan lagu. Tetapi bila kita melihat pengaruh sebuah tayangan kekerasan di televisi dengan peningkatan angka kriminalitas pada umumnya, bukan mustahil hal sama terjadi pada para peminat musik. Walaupun mungkin dampak yang terasa tak sebesar tayangan audio visual.

Saya pernah mendengar siaran dari sebuah radio tentang curahan hati para remaja. Saat itu ada seorang pemuda yang secara jujur mengaku menduakan pacarnya setelah mendengar lirik selingkuh dari sebuah lagu dan kemudian membenarkan aktivitas selingkuh. Menurutnya, selingkuh itu indah dan menyenangkan asal tidak ketahuan oleh sang pacar. Apakah anda prihatin dengan fakta tersebut? Mungkin ada yang berpendapat bahwa sah-sah saja seorang yang masih muda melakukan hal-hal yang dikategorikan pencarian cinta. Sedangkan bagi yang beranggapan negatif tentang kebiasaan pemuda saat ini, tentu menyatakan tidak setuju. Karena bila selingkuh dapat dikatakan sebuah pencarian cinta, maka siapa yang dapat menjamin hal serupa kan dilakukannya setelah menikah? Tak mengherankan bila banyak kasus perselingkuhan bukan lagi menjadi sebuah kasus melainkan berubah menjadi sebuah kebiasaan yang dapat dimaklumi.

Bisnis musik dan segala keterkaitannya dengan masyarakat hendaknya memberikan kontribusi positif bagi masyarakat itu sendiri. Seorang pencipta lagu pun memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat atas ciptaannya. Jangan sampai mereka berlepas tangan dan hanya mengambil keuntungan dari ciptaan yang mengakibatkan dampak buruk bagi masyarakat. Siapapun diperbolehkan mengekspresikan pikirannya dalam berbagai bentuk kreatifitas. Namun sekali lagi hendaknya ia bisa mengenali pengaruh karyanya bagi orang lain. Bagaimana sebuah musik memberikan fungsi ekspresi yang mendidik bukan menjerumuskan.

Di pihak lain, masyarakat sebagai konsumen penikmat musik juga perlu mendukung terciptanya sebuah karya musik yang baik. Tanpa bermaksud untuk menambah kepelikan persoalan yang ada, keadaan ini sepatutnya memperoleh perhatian dari masyarakat. Sebaiknya kita tidak sembarangan menerima suatu budaya yang jelas-jelas memberikan efek samping yang tak sederhana. Meskipun sekarang kebebasan individu lebih dihargai, tidak seharusnya individualisme malah menghalangi masyarakat sebagai kontrol atas tindakan menyimpang orang lain.

Pada intinya musik sebagai sebuah bagian dari kehidupan hampir setiap orang layaknya mampu berperan sesuai fungsinya. Entah untuk aktualisasi diri, wujud kebebasan berekspresi, atau hanya sebagai hiburan. Setiap orang bebas memilih dan menikmati jenis apapun. Untuk kesekian kali hendaknya kebebasan itu tidak justru membuat kita lupa akan tanggung jawab terhadap orang lain.

 

4 responses to “Lirik Lagu dan Perselingkuhan

  1. Setuju neng……
    sepertinya memang ada upaya melembagakan perselingkuhan mungkin dengan tujuan agar persoalan subhat seperti ini menjadi hal jamak di masyarakat. Hati2 dengan misi zionisme…
    Salam

  2. wah, kesindir teteh sama artikel ini. masmu bisa dikategorikan selingkuh ngga ya…tapi lagu-lagu kaya gitu emang termasuk program penghancuran kok. ada istilahnya subliminal message, termasuk dalam mind control, yang secara tidak sadar dimasukkin ke alam bawah sadar (subconscious mind-yang secara geblek suka disamakan dengan unconscious mind padahal beda jauh), supaya anak-anak muda jadi pada geblek taunya cinta-cintaan melulu yang ngga ada habisnya. ini belum termasuk subliminal message berbahaya lain yang ada seperti dalam lagu-lagunya dewa karena menghancurkan akidah secara tidak langsung tapi nyata. Sebagai anak ilmu komunikasi, ini perlu dek maey riset lebih luas, terus beritahukan ke semua orang supaya aware. teteh kan ngga sepinter itu, lagian juga ngga punya blog, hehehehe… muter lagi cari yang lain ahhh, disini teteh agak gimanaaaa gitchu loh…:-)

  3. agak gimana teh??

    hehe,.. dunia ‘mereka emang begitu’!

    DeWa yang pentolannya ngaku sufi dan Rumi addicted.
    padahal yh dak tau tuh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s