Semua karena Kita tidak Peduli..

Bencana dan bencana lagi. Mungkin kalimat itu yang kita keluhkan saat membaca atau melihat berita di berbagai media. Sepanjang tahun 2007 lalu berbagai cobaan bencana melanda beberapa daerah. Catatan hitam perjalanan Indonesia memang tak pernah absen menyebut kata bencana. Awal 2008 peristiwa-peristiwa kelam masih saja terjadi mengiringi musim hujan yang belum berhenti. Segala peristiwa bencana menunjukkan penyebab yang sama, kerusakan lingkungan.

 

Puluhan titik banjir tersebar di sepanjang pulau Jawa. Mulai dari ibu kota Jakarta, Pati, Semarang, Yogya, Kudus, Lamongan, sampai Bojonegoro. Belum termasuk daerah-daerah di Sumatera, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara. Korban tak terhitung lagi jumlahnya. Baik mereka yang hanya tersendat kegiatan ekonominya, maupun yang kehilangan harta benda dan anggota keluarga.

 

Bencana selama musim hujan terus terjadi setiap tahun. Sampai fenomena tersebut menjadi pokok pemberitaan di setiap menjelang akhir tahun. Dan hingga hari ini, meski telah melewati tahun baru masehi dan tahun baru Islam masalah bersama rakyat belum juga usai. Terkesan membosankan, namun memang banjir, tanah longsor, penyakit selama banjir, selalu terjadi dan terjadi lagi.

 

Salah bila kita mengkambinghitamkan takdir atas kesalahan kita sendiri. Kita semua tahu bahwa apa yang telah terjadi tidak lepas dari ulah manusia. Tanpa bermaksud menyamakan keadaan, prinsip demokrasi telah dilaksanakan oleh masyarakat. Dari rakyat untuk rakyat. Ya, manusia berbuat ulah dan manusia sendiri yang menanggung akibatnya. Entah itu si pelaku kekacauan atau malah hanya mendapat getah tanpa menikmati nangkanya. Kadang kita tidak sadar sedang menjajah lingkungan. Baru ketika musibah terjadi, kita baru sadar betapa berartinya lingkungan bagi kelangsungan hidup manusia.

 

Di sisi lain, pemerintah pun memiliki ‘andil’. Perlakuan hukum yang ada terkesan masih fleksibel alias tidak tegas. Masih ada penganut paham tebang pilih di hadapan hukum. Mengapa tebang pilih tidak dikonsentrasikan dalam konteks penebangan hutan? Pemerintah yang baik memiliki fungsi melindungi kepentingan rakyat. Namun ternyata masih banyak oknum berwajib terlibat main mata dengan pengusaha-pengusaha besar yang memanfaatkan hutan Indonesia jauh dari kata bijaksana. Mungkin dalam hal ini, pemerintah telah menjalankan tugasnya, membela segelintir rakyat yang ‘berkepentingan’. Miris dan sedih….

 

Beberapa alasan mendorong oknum yang seharusnya menjaga malah mengorbankan alam. Tapi yang paling utama tidak lain dan tidak bukan adalah soal uang. Tidak heran, segala hal bila dihadapkan dengan uang akan terkesampingkan. Begitupun mereka yang pandai menyulap sawah-sawah hijau menjadi hamparan gedung-gedung pusat bisnis tanpa memperhatikan dampak lingkungan. Kadang bagi sebagian besar orang, hal itulah cara mereka bertahan hidup. Yang berduit yang berkuasa.

 

Ketidakpedulian mungkin sebuah hal yang paling sepele namun juga paling sulit diubah. Bila seseorang hanya mengunggulkan sikap individualisme maka sulit mewujudkanmasyarakat yang bertanggung jawab. Tanggung jawab yang dimaksud dalam konteks peristiwa alam akibat ulah manusia adalah tanggung jawab moral. Disadari atau tidak, lunturnya kepedulian masyarakat terhadap masyarakat terhadap lingkungan menjadi penyebab utama terjadinya kemurkaan alam yang bertubi-tubi menimpa negeri kita tercinta. Bertanyalah pada diri sendiri, apa sebenarnya yang telah kita perbuat.

 

Sebenarnya tidak sedikit usaha yang dilakukan untuk meminimalisasi dampak kerusakan lingkungan. Seminar-seminar tentang lingkungan, gerakan pananaman sejuta pohon yang sempat digembar-gemborkan beberapa waktu lalu. Apalagi saat ini hampi seluruh negara di dunia menggaungkan usaha-usaha penghentian pemanasan global. Seharusnya hal-hal tersebut sudah membuat kita membuka mata dan melakukan apa yang bisa kita lakukan.

Betapa ironis bila ternyata Indonesia sebagai tuan rumah KTT PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC) pertengahan Desember lalu, sekaligus menjadi ilustrasi betapa gawatnya pemanasan global. Kenyataan ini seharusnya membuat kita semakin prihatin. Tidak ada waktu lagi untuk kita saling menyalahkan tanpa mencari solusi yang tepat. Solusi selama ini hanya bersifat mengurangi rasa sakit bukan menghilangkan luka. Saatnya kini pemerintah dan masyarakat berperan aktif mencegah penyebab bencana agar tidak terulang kembali di masa yang akan dating. Bukankah telah disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi. Maka merupakan tugasnya memelihara apa yang ada di dalam bumi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s