Catatan Media untuk Almarhum Pak Harto

Minggu, 27 Januari 2008 akan menjadi hari yang paling dikenang oleh bangsa Indonesia. Setidaknya satu tahun ke depan. Hari itu mantan presiden kedua republik Indonesia telah berpulang ke Rahmatullah. Seakan semua orang yang telah mengenal beliau merasa kehilangan. Sosoknya yang fenomenal, penuh kontroversi serta kepemimpinannya selama 32 tahun memang sulit untuk diabaikan begitu saja. Bahkan setelah di-lengser keprabon-kan oleh era reformasi 1998.

Karisma Jenderal Besar Purnawirawan Soeharto pun kembali mengemuka ketika hampir semua stasiun televisi, radio, dan media cetak mengenangnya dalam program-program in memoriam mengiringi kepergian penguasa Orde Baru. Mungkin para blogger pun tak mau ketinggalan turut menulis tentang Pak Harto. Intinya saat ini sangat mudah mencari berita tentang presiden yang menurut sebagian rakyat pernah bertindak otoriter.

Pemberitaan media-media nasional kembali diramaikan oleh pemberitaan seputar kondisi kesehatan Pak Harto yang naik turun sejak sepuluh tahun yang lalu. Terakhir Pak Harto diinapkan kembali di RS Pusat Pertamina 4 Januari 2008. Dan ternyata publik masih sangat menaruh perhatian pada beliau. Setiap hari media tidak pernah melewatkan liputan langsung dari RSPP menginformasikan perkembangan kesehatan HM Soeharto. Hingga satu hari sebelum wafat, beliau sempat dinyatakan membaik. Berita yang mungkin melegakan keluarga, kerabat, bahkan mereka yang menuntut keadilan atas kesalahan Pak Harto di masa pemerintahannya.

Pak Harto sering dicela namun sekaligus dipuja oleh rakyat Indonesia sendiri. Coba tanyakan pada wong-wong cilik di pinggir jalan. Pasti mereka berpendapat bahwa Pak Harto merupakan figur pemimpin yang baik. Keadaan stabil, harga relatif terjangkau, jarang terjadi kerusuhan atau konflik antar daerah. “Pokoknya lebih enak di zaman Pak Harto”. Tapi sebaliknya, bila kita tanyakan pada sebagian besar mahasiswa, atau mantan aktivis gerakan reformasi. Tentu pemikiran mereka sangat berkontradiksi dengan jawaban masyarakat awam.

Terlepas dari dua sisi penilaian masyarakat tentang pribadi mantan presiden Soeharto, pers dalam media massa selalu berada pada posisi netral. Karena pers memang dituntut untuk menyampaikan fakta yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Ketika dugaan korupsi ditudingkan kepada Pak Harto, segala fakta terungkap melalui media. Dan setelah Pak Harto meninggalpun, media yang mambuka mata masyarakat atas jasa-jasa yang beliau berikan untuk bangsa Indonesia.

Keterbukaan yang kini telah berada di tangan media massa hendaknya terus difungsikan sebagai hal yang positif. Terlebih pada masa yang akan datang peran media akan lebih kompleks untuk mendukung jalannya pemerintahan sesuai fungsinya sebagai lembaga kontrol masyarakat.

 

Terinspirasi dari pemberitaan media,

“terima kasih dan selamat jalan Pak Harto!..”

 

2 responses to “Catatan Media untuk Almarhum Pak Harto

  1. Sejarah memang subjektif (mata kuliah Sejarah Media Massa…)

    Konon, sehebat apapun Patih Gajah Mada yang namanya berkumandang seantero Indonesia, dia bukan siapa2 di depan masyarakat Sunda. Karena kekejamannya waktu melakukan invasi kerajaan ke Padjajaran.

    Apakah seperti ini juga Pak Harto?
    Entahlah, Saya lebih sepakat menghormati Pak Harto sebagai sosok yang luar biasa. Biarkan hukum nanti menunjukkan kesalahannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s