Pengendara juga Punya Etika

hiiiy

Sepeda motor kini bukan merupakan barang mewah. Hampir setiap keluarga di Indonesia dari penduduk kota hingga pelosok kampung memiliki alat transportasi lincah ini. Sepeda motor-sepeda motor di Indonesia sebagian besar berasal dari negeri industri Jepang. Didorong oleh kebutuhan transportasi yang semakin kompleks serta didorong perkembangan industri sepeda motor, semakin banyak orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat yang menggunakannya. Entah itu memang benar-benar dibutuhkan, mengikuti tren, atau memang sebagai mata pencaharian. Cara memiliki alat transportasi tersebut juga bermacam. Tunai ataupun kredit, yang pasti barang cepat di tangan.

Dapat dipastikan bertambahnya pengguna sepeda motor ikut memberi dampak terhadap lalu lintas pada umumnya. Kepadatan lalu lintas di jalan raya pun tak dapat terhindarkan. Arus kendaraan sepeda motor justru kini lebih mendominasi daripada kendaraan beroda empat. Hitung saja jumlah motor yang tiap pagi melintas di jalan-jalan protokol ibu kota seperti jalan Sudirman, jalan MH Tamrin, dan seterusnya.

Meskipun persoalan kemacetan terjadi di kota-kota besar Indonesia, seakan tidak ada kata sepi pembeli bagi dealer-dealer sepeda motor. Jumlah konsumen semakin meningkat. Seiring perubahan gaya hidup serta kebutuhan masyarakat. Namun sangat disayangkan kepemilikannya seringkali tidak disertai dengan tanggung jawab bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Yang dimaksud tanggung jawab pada diri sendiri adalah bagaimana seseorang menjaga keamanan pribadi ketika berkendara. Sedangkan tanggung jawab kepada orang lain yaitu memberi rasa aman. Kenyataan yang marak akhir-akhir ini, pengendara sepeda motor sebagian besar bersikap ugal-ugalan. Cenderung egois dan tidak memperhatikan keselamatan pengguna jalan yang lain. Tidak sedikit kasus kecelakaan lalu lintas diakibatkan oleh rendahnya etika berkendara. Seharusnya banyaknya kejadian yang hingga merenggut nyawa dapat menjadi pelajaran agar kesalahan yang sama tak terulang kembali. Namun kenyataan bahaya di jalan serta himbauan aparat keamanan tidak digubris oknum pengendara sepeda motor.

Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara sepeda motor bila kita sadari memang lebih banyak daripada mobil, truk, atau sarana transportasi lainnya. Diakui atau tidak kita sering juga melakukannya. Tidak memakai helm yang standar, tidak mematuhi rambu saat berjalan atau parkir, kebut-kebutan, tidak memperhatikan situasi dan kondisi jalan, serta sederet pelanggaran yang lain. Kadang banyak juga pemilik sepeda motor yang dengan sengaja tidak membawa SIM, mempreteli bagian-bagian penting dari motor, sampai mengabaikan prosedur pengujian kendaraan. Terkadang pelanggaran pun tak murni hanya datang dari pengendara. Seorang kawan pernah nyata mengatakan bahwa untuk mendapatkan SIM, tidak perlu ia menjalani satu tes pun. Cukup dengan membayar sedikit lebih besar, ia bebas beraksi di jalanan. Kalau ada masalah di jalan, tinggal membayar ‘denda’ berupa sejumlah uang. Urusan beres ketika itu juga. Melihat kenyataan ini, etika dan kepatuhan masyarakat pada rambu atau peraturan lalu lintas menjadi perlu dipertanyakan. Banyak yang kemudian mengabaikan etika berkendara yang sebenarnya sangat penting bagi keselamatan pengendara serta lingkungan sekitarnya.

Sebuah situs di internet www.maludong.com yang pernah saya buka, digunakan khusus untuk merekam kejadian-kejadian pelanggaran lalu lintas dalam kamera foto. Dengan melihat situs tersebut diharapkan kita menjadi malu terhadap pelanggaran-pelanggaran dengan sepeda motor atau kendaraan lainnya sesuai nama situs tersebut. Terbukti bahwa tidak semua masyarakat senang dengan pelanggaran. Ada beberapa orang yang risih dengan pelanggaran yang semakin lama malah semakin dibiarkan oleh orang banyak.

Geng Motor, Bukti Rendahnya Etika Berkendara

Pelanggaran dengan mudah ditemukan di jalanan. Tentu telinga kita beberapa saat lalu kerap mendengar kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh geng motor. Tindakan brutal mereka sangat meresahkan masyarakat. Mereka tidak sadar tengah melakukan sebuah perbuatan kriminal yang berpengaruh besar pada masyarakat. Sebenarnya, keberadaan geng motor merupakan sebuah bukti rendahnya etika berkendara. Dari yang mulanya hanya iseng-iseng, kemudian menganggap hal-hal yang seharusnya tidak bisa ditoleransi menjadi kebiasaan buruk.

Memang tidak bijaksana bila kita menghakimi para oknum pengendara yang terlanjur terbiasa dengan budaya indisipliner sekarang ini. Bagaimanapun, perlu kita bercermin atas kesalahan yang telah berubah menjadi kebiasaan. Sebagian masyarakat terbiasa mendapatkan SIM baik kendaraan roda dua maupun roda empat lewat jalan ‘belakang’, menghindari prosedur-prosedur kepemilikan kendaraan, mengabaikan sebagian besar rambu-rambu jalan. Dan kadang bersikap emosional, terburu-buru, sehingga kadang mengesampingkan unsur keselamatan.

Dalam mengatasi persoalan yang pelik seputar perilaku pengendara motor, pemerintah secara tertulis telah menetapkan berbagai peraturan untuk menertibkan situasi lalu lintas di jalan umum. Kita ambil contoh dalam Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pada Bab V tentang kendaraan bagian persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan bermotor:

Pasal 12 ayat (1)“Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus sesuai dengan peruntukannya, memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan serta sesuai dengan kelas jalan yang dilalui.”

Lalu untuk pengujian kendaraan kita dapat menemukannya pada:Pasal 13 ayat:(1) Setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan, dan kendaraan khusus yang dioperasikan di jalan wajib diuji.(2) Pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi uji tipe dan atau uji berkala.(3) Kendaraan yang dinyatakan lulus uji sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diberikan tanda bukti.

Kembali mencermati fungsi surat ijin mengemudi, telah jelas disampaikan dalam pasal 18, dan 19. Di sini terlihat bahwa seharusnya SIM benar-benar menjadi ‘surat sakti’ yang penggunaannya tidak boleh sembarangan.Pasal 18 ayat (1)Setiap pengemudi kendaraan bermotor, wajib memiliki surat izin mengemudiPasal 19 ayat (1)Untuk mendapatkan surat izin mengemudi yang pertama kali pada setiap golongan, calon pengemudi wajib mengikuti ujian mengemudi, setelah memperoleh pendidikan dan latihan mengemudi.

Pasal-pasal di atas hanya sebagian kecil dari peraturan-peraturan yang telah disahkan oleh pemerintah. Aparat pun telah menerapkan sanksi bagi pelanggaan etika berkendara. Namun sekali lagi masih banyak kesalahan yang dilakukan baik oleh pengendara maupun oleh oknum petugas di jalan. Akankah situasi lalu lintas akan terus kita biarkan terus seperti ini? Tentu jawabnya adalah tidak. Lalu bagaimana cara mewujudkan kembali ketertiban lalu lintas?

Pentingnya Peran Aparat dan Masyarakat

Sikap disiplin hendaknya juga dapat kita terapkan dalam kehidupan berlalu lintas. Memang sulit mengubah kebiasaan masyarakat yang telah mendarah daging. Namun yang terpenting adalah usaha masyarakat beserta aparat mewujudkannya. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai cara mewujudkan etika berkendara yang baik. Tips-tips sederhana ini mungkin berguna bagi para pengendara yang ingin tetap menjaga etikanya di jalan raya. Tips berikut saya dapatkan dari seseorang yang pernah mengalami langsung pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan di jalan.
*Hindari pelan di tengah jalan*
Memperlambat laju kendaraan di tengah jalan kadang malah menghambat kelancaran pengemudi kendaraan lain. Jaga selalu kecepatan dan tetap waspada.
*Beri tanda sebelum belok *
Berilah tanda sebelum akan berbelok agar tidak terjadi salah pengertian. Bila tidak, risiko diserempet mobil harus kita terima.
*Jangan Menyalip seenaknya *
Perkirakan jarak kendaraan dan kondsi lalu lintas bila ingin menyalip sebuah mobil. Jangan menggunting atau tergesa-gesa tanpa memperhatikan keadaan jalan
*Keluar gang jangan langsung ke jalan raya*
Ketika keluar dari gang, berhentilah sejenak untuk memastikan posisi menuju jalan raya. Jangan asal lewat karena dapat mengganggu pengemudi di jalan raya.
*Jaga jarak dengan mobil di lampu merah *
Perhatikan pula keamanan diri anda di lampu merah. Biasanya sering terjadi insiden kecil kaki terlindas ban mobil bila kita lengah.
*Gentleman bila melakukan kesalahan *
Ketidakhati-hatian sering menimbulkan peristiwa penyerempetan. Mintalah maaf, dan berhati-hatiilah agar tidak terulang kembali.
*Berbalik arah *
Seperti kiat-kiat sebelumnya, bila ingin berbalik arah pasang mata supaya mendapatkan posisi balik yang aman dan tidak mengganggu pengemudi lain. Jangan ceroboh membalik arah saat jalanan masih padat.

 

Selain upaya-upaya nyata mengendarai secara baik dan benar, kesiapan mental berkendara pun perlu mendapat perhatian. Maksudnya, setiap orang yang berkendara hendaknya dapat mengendalikan emosinya. Tidak sedikit kasus kecelakaan yang disebabkan persoalan yang sebenarnya sangat sepele, tidak dapat menahan emosi. Aparat sebagai pihak berwenang sepatutnya menjadi pengawas perilaku masyarakat. Anggapan orang tentang polisi yang suka mengambil keuntungan dari pelanggaran-pelanggaran masyarakat sudah waktunya dihilangkan.


Menaati etika berkendara bukan semata-mata menghindari kecelakaan atau sesuatu yang tidak diinginkan melainkan juga menciptakan keteraturan. Siapapun pasti menginginkan situasi berkendara yang aman, nyaman bagi setiap pengguna jalan.

*****

Terima Kasih untuk referensi beberapa alamat blog yang saya lupa namanya.(Maaf, bukan bermaksud untuk melakukan plagiarisme..)

One response to “Pengendara juga Punya Etika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s