Setelah Kepergiannya..

Telah berlalu empat puluh hari semenjak kepergiannya. Menyisakan kenangan yang begitu lekat di hati. Tawanya, cerianya, kehebohannya, semangat, serta optimisme yang ia berikan pada kami.

Lebih kurang empat tahun lalu, pertama kami mengenailnya sebagai kakak kelas dalam sebuah organisasi ekstrakulikular jurnalistik SMA. Dia yang menarik perhatian kami, ya.. dengan teriak-teriaknya yang penuh semangat. Seorang gadis yang cerdas terbukti dengan prestasi-prestasi akademik. Setiap bertemu di ;uar kegiatan ekstra ia menyapa kami, dengan senyum yang tulus “De, jangan lupa berangkat ekskul SIBEMA, yaaa…!”. Seorang kakak yang ramah, baik hati, dan perhatian. Maka tak heran kami menobatkannya sebagai Kakak terfavorit pada acara pergantian pengurus organisasi.

Di saat-saat terakhir, kami berkesempatan untuk wisata studi ke perusahaan surat kabar di Semarang dan mengunjungi Candi Gedongsongo. Suasana tampak menyenangkan seperti biasa. Ia masih suka bercanda tentang julukan lucu ‘Kepala Kentang’ yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Di tengah perjalanan sesekali kami bernyanyi, tertawa-tawa lepas menikmati hari. Tanpa pernah kami menyangka hanya berselang beberapa bulan kemudian kami mendengar kabar sakitnya. Entah sakit apa. beberpa dokter mendiagnosa ia menderita inilah, itulah. Hingga kami tak tahu apa sebenarnya yang menimpa saudara kami. Sempat terdengar berita yang begitu menyakitkan, sulit baginya sembuh secara medis.

Sekali dua kali sepanjang tiga tahun ujian berat keluarganya itu kami menjenguknya. Kadang ia sadar, mengenali wajah kami, namun sulit untuk diajak berkomunikasi. Semua yang dia lakukan harus dibantu keluarga, pembantu, atau perawat. Gurat wajahnya menyiratkan keikhlasan. Subhanallah, ia tak pernah mengeluh, apalagi terlihat meneteskan air mata. Hingga tiba hari itu, Sabtu 15 Maret 2008. Kuterima pesan bahwa ia telah tiada.

Empat puluh hari berlalu setelah kepergiannya. Kami datang ke kediaman almarhumah untuk mengadakan doa bersama. Entah mengapa kami merasa ia masih ada di sana. Kami menyalami ibunda almarhumah dengan erat. Tampak beliau telah sangat ikhlas menerima kepergian putri semata wayang. terlihat jelas dari puisi yang beliau tuliskan di buku Yasin. Di buku yang berwarna pink itu juga ada fotonya mengenakan jilbab putih. Cantik sekali. Semoga 4WI mengampunkan dosa dan menerima amal ibadahnya. Amin…

Mba Erdiana Mutiara Ningtyas in memoriam..

4 responses to “Setelah Kepergiannya..

  1. Waktu ke Gedong Songo itu dia juga pernah cerita mau belajar menggunakan jilbab. Wallahu’alam semoga kalau pun di dunia tidak terjawab, di Akhirat nanti akan Allah jawab permohonann itu

  2. wah, nangis teteh baca yang ini T_T jadi ingat “adik” angkat teteh namanya Aisha AK, putri pembimbing masmu itu, meninggal dalam usia kurang lebih 25 tahun karena kanker otak… semoga amal baik mereka diberi balasan yang lebih baik, dan semua dosa serta khilaf mereka dimaafkan, amin amin ya rabbal ‘alamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s