Magelang Bakal Punya Duta Baca

Membaca. Hal yang banyak menjadi pilihan kegemaran seseorang. Coba tanyakan kepada para pelajar atau mahasiswa. Saat ditanya kegiatan apa yang mereka sukai, sebagian besar menyatakan membaca adalah hobi mereka. Namun itu terjadi beberapa tahun lalu. Ketika budaya membaca masih terasa kental dalam kehidupan masyarakat. Sebelum teknologi-teknologi digital, instan, mudah didapatkan. Kegiatan membaca buku terutama buku teks, menjadi jarang kita temui.

Tidak sedikit orang menganggap bahwa budaya membaca kini mengalami penurunan. Berbagai ungkapan keprihatinan terungkap, namun belum juga tercapai hasil yang diharapkan. Sebagai masyarakat, perlu kita ketahui terlebih dahulu apa yang menjadi penyebab menurunnya minat masyarakat terhadap kegiatan membaca tersebut. Disadari atau tidak, penyebab utama keadaan ini adalah kebiasaan individu. Di zaman serba canggih seperti sekarang ini, orang tua cenderung membiasakan anaknya untuk mencari informasi melalui cara yang lebih mudah, cepat, tidak banyak menyita waktu mereka. Kebiasaan ini akan tertanam hingga ia tumbuh menjadi remaja bahkan dewasa. Penyebab kedua dari penurunan kebiasaan membaca adalah keterbatasan akses. Yang dimaksud keterbatasan akses di sini dapat mencakup beberapa hal. Seperti keterbatasan informasi tentang buku dan keterbatasan anggaran keluarga yang dialokasikan untuk membeli buku. Beberapa buku yang bermutu identik dengan harga yang cukup mahal. Ditambah lagi situasi perekonomian masyarakat yang belum pasti saat ini membuat nilai nominal buku semakin melambung. Masyarakat yang berada di lapisan menengah ke bawah harus berpikir berulang kali untuk mengeluarkan uang demi sebuah buku. Sedangkan yang ketiga, belum termasyarakatkan budaya menulis. Kegiatan membaca dan menulis memiliki hubungan yang erat dan saling memengaruhi. Disadari jumlah penulis di Indonesia apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk masih terbilang kurang. Hal ini mengakibatkan masih terbatasnya variasi bacaan yang ada. Sebagian orang menjadi enggan membaca karena tema bacaan yang itu-itu saja.

Sebenarnya hampir semua orang mengakui bahwa membaca merupakan hal positif sepanjang apa yang dibaca pun bermanfaat. Akan tetapi ternyata masih sulit untuk menumbuhkan semangat membaca di antara mereka. Buku sebagai gudang informasi sejak dahulu mempunyai sejumlah kelebihan dibanding sarana informasi audio atau audio visual (radio dan TV), bahkan media internet saat ini. Informasi yang didapatkan melalui buku dapat kita serap secara lebih mendalam karena detail informasinya dapat kita baca berulang-ulang. Selain itu, buku memiliki pertanggungjawaban yang jelas dibandingkan dengan informasi di internet yang kadang memungkinkan pemalsuan identitas.

Budaya membaca di Indonesia saat ini memang tengah mengalami keterpurukan. Namun di balik semua itu kita juga tak memungkiri bahwa perkembangan dunia tulis-menulis di Indonesia mulai berkembang terbukti dengan lahirnya penulis-penulis muda seperti Andrea Hirata dengan tetralogi Laskar Pelangi-nya. Didukung dengan adanya komunitas-komunitas penulis di berbagai daerah. Dengan munculnya kreativitas menulis, diharapkan minat membaca di berbagai kalangan masyarakat akan dapat muncul kembali. Pada peringatan hari Buku Sedunia tanggal 23 April 2008 lalu, Indonesia pun tampak cukup antusias dengan diadakannya event-event tentang gerakan gemar membaca.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi juga tidak perlu dianggap sebuah ancaman terhadap pola membaca di masyarakat. Keberadaan media internet misalnya, justru akan semakin memperkaya pengetahuan serta pilihan informasi bagi masyarakat. Yang perlu diperbaiki sesungguhnya adalah kebiasaan sebagian orang yang menggunakan cara instan untuk memperoleh informasi tanpa disertai landasan pertanggungjawabannya.

Era globalisasi menuntut kompetisi dari setiap negara untuk menunjukkan kemampuannya. Bangsa manapun yang menguasai informasi, ia pun akan ‘menguasai dunia. Sangat disayangkan apoabila bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar belum mampu menampilkan eksistensinya di mata dunia karena kurangnya kebiasaan membaca.

Mengubah kebiasaan masyarakat tentu bukan suatu hal yang mudah. Untuk itu, kita sebagai individu bagian dari masyarakat hendaknya menyadari bahwa perubahan paling mendasar dimulai dari diri sendiri. Ada bermacam cara yang dapat ditempuh untuk memasyarakatkan kembali kebiasaan membaca cerdas, yang tak sekadar membaca tapi juga memahami dan menerapkan ilmu yang telah didapatkan. Menjadi Duta Baca kota Magelang merupakan cara yang efektif bagi para generasi muda yang masih peduli dan berkeinginan memberikan kontribusi positif bagi kemajuan kota tercinta pada khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Pemilihan Duta Baca 2008 merupakan pemilihan perdana yang belum pernah diadakan sebelumnya. Dengan adanya event ini diharapkan minat baca di kalangan masyarakat kota Magelang semakin berkembang. Selain mengajak masyarakat umum untuk gemar membaca, Duta Baca juga memiliki kewajiban untuk mengajak masyarakat yang kurang mampu serta mereka yang masih mengalami buta aksara untuk juga mau mencari ilmu dan informasi melalui buku atau surat kabar. Mengingat status Jawa Tengah yang hingga saat ini angka buta aksaranya masih tinggi. Kegiatan ini juga dapat memotivasi mereka yang tidak memiliki kesempatan bersekolah untuk dapat menjadi orang yang sukses. Karena ilmu tidak hanya dapat diperoleh melalui jalur pendidikan formal.

******

2 responses to “Magelang Bakal Punya Duta Baca

  1. hahaa… iyha memang ada.

    Tapi saya ga yakin msZulf yg supersibuk bisa mengikutinya..
    hehe…

    Sampai 10 juli ms! syarat2 telp aj Perpuskot.
    hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s