Geram, Geli dan Jengkel

Geram mendengar berita pagi ini,.! Memang benar kata asisten dosen di kampus. Pemberitaan media memang tak bisa netral.
Wuiih, apalagi sekarang…!

Yha, coba lihat saja tentang pro-kontra RUU Pornografi kemarin sebelum disahkan. Isi berita didominasi oleh pengeksposan demo-demo menentang RUU. Tidak seimbang, demo-demo penolakan hanya muncul sekelebat saja,. Bahkan kadang hanya nempel di newsticker..
Sekarang setelah pengesahannya pun, media masih terus-terusan memberitakan aksi penolakannya. Entah demo, aksi teaterikal, atau aksi perenungan oleh mereka yang merasa terpasung kebebasannya oleh RUU Pornografi. Seakan-akan memang media mendukung batalnya UU ini, sebelum terlanjur ditandatangani oleh presiden.
Tadi malam, 6/11/2008, di Tugu Proklamasi berlangsung sebuah renungan bersama dari sejumlah tokoh yang menentang RUU Pornografi ditandatangani oleh presiden. Ada Butet Kartarajasa yang seperti biasa menyampaikan monolog, tentang keprihatinannya bila UU ini dilaksanakan. Katanya, akan banyak orang yang akan dipenjara.
Lain lagi dengan Adnan Buyung Nasution yang secara berapi-api menyampaikan orasinya. Ia berjanji akan bicara langsung dengan SBY untuk tidak menandatangani UU Pornografi.
” Perjuangan kita masih panjang, karena kita memperjuangkan keutuhan NKRI. Yang pasti saya mohon kekompakan dari kalian   semua untuk tetap berusaha,.” ungkapnya.
Selain kedua tokoh di atas hadir pula Gus Dur dan istri, GKR Hemas yang sejak awal memang menolak berlakunya UU ini. Hehe9,.. sebagian orang sudah tau pasti siapa beliau-beliau ini!

Dua stasiun TV swasta yang menyajikan berita yang sama juga solah-olah sudah disekenario. Yang satu menampilkan orasi dari Adnan Buyung Nasution dengan jelas, sampai suara narator (pembaca berita) pun tidak terlalu jelas. Sedangkan yang satu mengambil aksi monolog Butet. Jadi pelaporan tentang keduanya bisa dibilang sempurna. Lucu?? Ya memang begitu adanya. Kalau media sudah dikuasai segelintir orang

Dalam orasi Adnan, ia mengatakan bahwa perjuangan menentang UU Pornografi memang berat karena mereka harus menghadapi segelintir orang yang ingin memaksakan kehendaknya..

Geram, Geli dan Jengkel, .  (NGAKU NIH???) ^^

6 responses to “Geram, Geli dan Jengkel

  1. Udah lah dik gak usah marah2 kayak gitu khan saya udah bilang kalau sistemnya itu masih demokrasi ya seperti itu. Apalagi peran media yang selalu memojokkan Islam.. Itu yang menggerakkan adalah modal. Para pemilik modal tentu saja yang pro terhadap pornografi yang membiayai itu semua. Ya khan?

  2. Pemberitaan media memang tak bisa netral…. kalo netral mah udah geger indonesia ini dek tau sapa teteh, hehe. ada untungnya ngga netral kok.

    15.000 % setuju,.. teteh 666% aja yaa….hehe

    Dua stasiun TV swasta yang menyajikan berita yang sama juga solah-olah sudah disekenario… baru tahu? bukan cuma dua, tapi semua kok. kalo istilah masmu ya konspirasi gitu. ngga usah kaget, tapi ungkap aja biar tau.

    media sudah dikuasai segelintir orang… dari awal kemunculannya emang udah dikuasai mereka kok. ya ngga heran to ya? hehe, btw, nice article, keep goin’ on, honey… We’ll always support your struggles, insya Allah…

  3. iiih, koq pake triple six % siih??

    hehe,. belajar teh, koreksi sangat sy butuhkan!
    pokoknya big thanks untuk semuannya,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s