Atribut yang Mengganggu

Simpel saja, tulisan saya kali ini akan bercerita tentang sebuah pengalaman unik yang menggelitik. Minimal bagi saya sendiri.

Tepatnya kemarin, sehabis menginap di tempat kost teman, saya diantar menuju pemberhentian bus kota. Saya akan kembali ke rumah pagi itu. Di antara gang-gang kampung yang tidak terlalu lebar saya menemukan pemandangan yang unik. Ada spanduk yang tidak seberapa lebar. Seingat saya hanya berukuran 1,5 m x 1 m. Warnanya pun tidak mencolok, putih biasa dengan tulisan hitam dan merah. Tulisan di dalam spanduk itulah yang menarik perhatian.
“Warga RW xxx (lupa RW berapa) sepakat tidak menyetujui pemasangan atribut partai”

1228825390-bendera-partai
Begitu kira-kira intinya. Sebagai orang yang tidak memihak atau memilih partai manapun saya setuju sekali dengan ketegasan para warga di salah satu RW di daerah Warungbroto, kota Yogyakarta itu. Mereka jelas merasa sangat terganggu dengan pemasangan atribut kampanye Pemilu 2009 mulai dari spanduk, bendera-bendera, atau sekadar stiker. Bisa dikatakan daerah tersebut yang paling ‘steril’ dibandingkan wilayah-wilayah di sekitarnya. Tidak ada secuil pun warna-warni khas partai politik ditambah bonus senyuman calon legislatif terlihat sepanjang RW tersebut.
Pemasangan umbul-umbul, spanduk, atau sejenisnya mulai awal 2009 lalu telah dengan tenangnya terpasang di sejumlah pelosok perkampungan. Saya yakin, hanya sedikit pemilik tanah atau rumah yang dimintai izin area mereka dipasangi atribut berbagai parpol. Sebagian lainnya tidak rela namun terpaksa memaklumi, mengingat negeri ini akan segera melaksanakan hajat besar pesta democrazy (kalau tidak salah tulis,..) Indonesia.
Apakah metode tersebut yang menggantikan metode kampanye dengan konvoi sepeda motor yang cenderung rusuh pada pemilu-pemilu sebelumnya? Yang pasti, kedua metode tersebut sama-sama menyiratkan pelanggaran hak masyarakat untuk mendapatkan kenyamanan di lingkungannya. Hanya saja memang tidak ada undang-undang yang mengatur tentang hal ini.
Bila Anda atau warga di daerah Anda merasa hal yang sama, mungkin cara warga Warungbroto tersebut bisa menjadi solusi yang jitu.

5 responses to “Atribut yang Mengganggu

  1. Ga cuma di perumahan, di jalan2 protokol pun kasihan pohon2 yang jadi penyejuk justru “ditikam” paku2 poster para caleg yang cantik2 dan ganteng2 itu…

    Tapi, kalo di kampung2 harus pake ijin pemasangan, sulit juga. Ga mungkin kan tiap caleg ijin ke perangkat desa setempat tiap kali mau masang atribut…

    Sebenarnya, kampanye dengan model poster ini makin mengukuhkan tesis Brian McNair. Bahwa politik zaman sekarang adalah politik yang termediasi (lewat media, maksudnya). Siapa yang ingin kuat secara politik, maka kuasailah pula publikasi media, bukan publikasi bellow the line.

    Sekarang aja coba kita lihat, mana sih partai besar yang ga gencar berkampanye menggunakan media massa? nyaris tidak ada…

    Bahkan, beberapa partai “gurem” pun kini mendadak melejit karena kemampuan mengelola media. tahu lah siapa aja mereka…

  2. Ngomongin kampanye via baliho, reklame, dan spanduk.

    Sadar ga kalau Om Roy Suryo punya strategi cerdas? Dia baru kampanye di injury time Pemilu. Jelas dia punya maksud agar nama+wajahnya masih hangat saat waktu coblosan (atau contrengan) berlangsung. Tdk kyk caleg lain yg jauh2 hari kampanye. Eh, pas hari coblosan, namanya keburu dilupakan.
    Om Roy memang contoh alumni komunikasi UGM yg berhasil. Ckck..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s