Mencari Esensi Profetisme

4

 

 

 

 

 

 

Profetisme menjadi bahan pembicaraan paling hangat dan menyejukkan. Keterkaitan agama secara langsung dengan kehidupan masyarakat memang lama dirindukan, dinantikan oleh masyarakat sendiri setelah sekian lama berkutat dengan hal-hal kaku berbau negara (baca : otoritarian ala Orde baru).

Profetisme menjadikan nilai-nilai religiustitas, keagamaan, ketuhanan sebagai basis dari aktivitas manusia dalam berbagai taraf dan bidang kehidupan. Profetisme dipandang sebagai ‘malaikat’ untuk menolong ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan yang kita rasakan setelah sekian lama. Misalnya, agama kini dibawa-bawa dalam politik, sekalipun cara penerapannya belum tentu benar.

Menjadikan profetisme agama sebagai basis material pembudayaan politik adalah juga menjadikan agama terbuka untuk berdialog dengan kesemestaan pluralitas yang terangkum dalam realitas sosial-politik kita. Dan di sinilah eksklusivisme yang seringkali dibonceng oleh ideologi gerakan keagamaan sepatutnya dihindari.

(http://udayabdurrahman.blog.friendster.com/agama-dan-pembudayaan-politik/)

Profetisme dan Kehidupan Manusia

Profetisme beberapa tahun belakangan menjadi sebuah latar belakang dalam berbagai bentuk aktivitas manusia. Di antaranya bentuk-bentuk wacana, film, genre jurnalisme, dan gerakan. Bila pada sepuluh tahun yang lalu pemaknaan profetisme masih bersifat ‘malu-malu’ bahkan ada sebagian pihak yang mengatakan anti, kini profetisme seakan menjadi tren tersendiri. Dekat dan mudah diakses oleh siapapun yang memang memiliki latar belakang dan visi yang sama, yaitu mengadopsi nilai-nilai spiritual keagamaan ke dalam kehidupan nyata.

Islam, sebagai agama yang paling sempurna sebagaimana difirmankan Alloh dalam kalam-Nya, memiliki nilai-nilai yang mampu diterapkan dalam stiap lini kehidupan manusia. Karena memang demikianlah, Al-Qur’an diciptakan untuk menjadi pedoman. Maka merupakan suatu hal yang wajar apabila nilai-nilai luhur tersebut dibawa dalam mengarahkan apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan oleh manusia.

Profetisme bukanlah tren bagi Islam. Lebih dari itu, profetisme merupakan sebuah keharusan. Bahkan mungkin bagi Islam, tidak perlu ada kata profetisme sebab, hukum Islam berikut nilai-nilainya memang selayaknya diwujudkan dalam perilaku manusia dari lingkup terkecilnnya sebagai individu, hingga dalam interaksi besar dalam sebuah negara.

Namun bila memang harus membahas tentang profetisme sebaiknya kita mencermati bagaimana bentuk profetisme yang benar. Memang kebenaran cenderung bersifat relatif, akan tetapi sebagai muslim yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah mestinya kita mampu untuk setidaknya belajar bersikap cerdas, tidak semata mengikuti arus modernisasi yang disetir oleh segelintir orang.

Profetisme dalam Gerakan

”Era liberalisasi politik sedikit banyak telah pula menyedot perhatian mayoritas aktivis Islam untuk segera terlibat di dalamnya. Dan ini yang paling klasik. Biasanya, keterlibatan seperti ini mengandung implikasi sosial berupa biaya yang mesti ditanggung oleh Gerakan Islam dalam bentuk tersedotnya banyak tenaga dan pemikiran untuk mengiringi keterlibatan tersebut. Selain itu, pada saat yang sama, seringkali pula kita lupa. Yakni sekalipun aktivisme Islam di kampus-kampus tersebut berangkat dari suatu kesadaran yang memiliki bentuk dan arah yang jelas (manifest), akan tetapi kerangka kerja dari bentuk kesadaran tersebut masihlah berbentuk bahan baku yang mesti diolah lebih jauh lagi menjadi produk-produk jadi yang siap dikonsumsi. Dan di sinilah problem klasik gerakan Islam muncul, yaitu memformulasikan gagasan-gagasan politiknya menjadi serangkaian program dan tindakan-tindakan nyata, yang dapat diukur secara terbuka oleh masyarakat luas untuk diberi nilai, apakah gagasan tersebut realistis bagi mereka atau tidak.”

(Arah Gerakan Mahasiswa Islam, oleh Andi Rahmat. Terarsip dalam  <http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/04/arah-gerakan-mahasiswa-islam.html&gt;)

Gerakan mahasiswa Islam memang menggembirakan akhir-akhir ini. Inilah kaum muda yang ideal. Tak hanya memikirkan ego mereka untuk meraih prestasi di kampus, sekelompok mahasiswa yang bergabung dalam gerakan-gerakan Islam merasa juga harus berbuat sesuatu untuk bangsa ini.

Akan tetapi sungguh sayang cita-cita mulia tersebut kadang harus berhenti di tengah jalan, karena lelah, atau kehilangan orientasi pada apa yang ia lakukan selama ini melalui proses gerakan. Lelah karena usaha mereka tidak mendapat tanggapan dari penguasa atau lelah mewujudkan impian-impian yang sedikit jauh dari kata realistis. Padahal seharusnya momentum kebangkitan agama dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat seperti saat ini mampu mendorong kebangkitan yang sbenarnya, yakni kebangkitan Islam. Sebagaimana tujuan besar yang tertuang dalam anggaran dasar sebagian besar gerakan mahasiswa terutama yang menganut basis profetisme.

Menuju Indonesia Baru yang Berkeadilan

Bergabung dengan sebuah gerakan artinya siap mengambil konsekuensi gerakan tersebut. Telebih bergabung dengan gerakan berbasis profetisme, gerakan Islam. Saatnya kita tidak lagi hanya menghafal tujuan, dan justru bermimpi terlalu tinggi tanpa mengerti apa esensi dari tindakan kita. Momentum bangkitnya posisi agama memberikan harapan yang lebih besar untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang lebih baik. Menuju Indonsia baru yang berkeadilan dengan ’gerakan’ yang tepat, sehingga matinya orientasi atau kelelahan yang sia-sia tidak terjadi.

***

ditulis sebagai syarat mengikuti pengkaderan dasar sebuah gerakan mahasiswa,.

*terima kasih atas kesempatannya!

 

One response to “Mencari Esensi Profetisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s