Rindu Uztadz Ber-‘Garis Keras’

jihad_1Persoalan dunia semakin hari semakin belibet. Orang semakin banyak maunya, semakin aneh2 dan kadang tak masuk di akal. Ada yang aneh membuat hukum agama sendiri supaya tidak susah-susah beribadah, aneh membandingkan perbaikan moral dengan mempertuhan hak azasi manusia.

 

Manusia hidup dengan aturan yang dibuat untuk dipatuhi. Tapi ternyata sekarang kalimat itu sudah berganti, aturan ada untuk dilanggar. Yha, memang manusia tak pernah sempurna. Tapi bila sudah begini, apakah bukan termasuk keterlaluan? Aturan yang dibawa manusia sejak lahir adalah aturan dari Alloh, sebab Alloh yang menciptakan manusia. Begitu sudah fitrohnya. .Tapi yha dasar manusia, sering berbuat kerusakan terhadap dirinya sendiri, jelas kan sebuah ayat Alloh yang mengungkapkan itu??

Diciptakan bagai kertas putih yang belum tercoret apapun, kita lahir di dunia ini. Kita belajar memahami, memikirkan, lalu menentukan jalan hidup mana yang akan diambil. Akan kembali mendekat ke fitrohnya, atau justru menjauh karena kesombongannya, merasa tidak memerlukan agama, bahkan tidak memerlukan Tuhan. Na’udzubillah. .

Dekat-dekat dengan hari H akhirzaman ini, (bukannya ikutan wacana masyarakat soal 2012, lhoo.. ) terlihat benar tanda-tandanya. Seorang tokoh bangsa ini pernah mengungkapkan, jumlah muslim mungkin akan terus meningkat semakin hari, namun yang benar-benar berpegang pada Qur’an dan Sunnah lambat laun akan menyusut. Tidak sedikit yang mengaku memperjuangkan kejayaan Islam di parlemen, tapi ternyata keblinger dengan kekuasaan (lucu, wong jelas parlemen itu bikinan siapa. . .).

Tidak sedikit yang mengaku berdakwah lewat lagu, tapi ternyata tenggelam dalam selera musik yang acak adul demi modal (lucu, wong jelas juga musik tu dagangan potensial bos-bos rekaman di Indonesia). Tidak sedikit yang mengaku mengembalikan umat pada jati diri tauhidnya, tapi ternyata ngajarin praktik sinkretisme cara halus (lucu, cara yang benar dianggap kuno tuh..). Tidak sedikit yang mengaku cendekiawan muslim, malah rame2 mengkritisi hukum Islam yang telah ditentukan (lucu, agama dianggap candu yang mengganggu kebebasan berpikir).

Betapa rindunya hati pada ustadz2 yang berani berbicara lantang, mengatakan bahwa hukum Alloh adalah ‘ini’, tanpa dibumbu2i dengan alasan agar mudah diterima oleh masyarakat awam. Mereka yang berada di ‘garis keras’ maksudnya berkata jelas, yang haram memang haram, tanpa harus dikompromi pada perubahan zaman dan budaya di masyarakat. Yang tidak buta pada popularitas dan pengakuan masyarakat negeri ini. Rindu pada ustadz2 yang gigih memperjuangkan Islam agar berjaya pada saatnya nanti. Amin . .

6 responses to “Rindu Uztadz Ber-‘Garis Keras’

  1. @ ridwan
    sepertinya dengan cara halus memang sudah tidak mempan
    @ riza de kasela
    vote for uztadz bergaris keras lah, tegas menyampaikan Al-Qur’an dan Sunnah

    • @ Rojulun min Jukjakarta
      terima kasih atas kunjungan anda!!
      mencoba sedikit berarti, dan memang untuk menyampaikan tulisan dengan dalil tidak mudah bagi saya…
      tentu saja boleh di-copy
      lalu untuk istilah ‘garis keras’ tentunya saya tidak bermaksud menunjukkan Islam berarti kekerasan, hanya efek kegeraman hati saya pada Uztadz2 tegas yang mulai jarang sekarang ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s