Jangan Tinggalkan Hikmah

“Ambillah hikmah yang kamu dengan dari siapa saja, sebab hikmah itu kadang-kadang diucapkan oleh seseorang yang bukan ahli hikmah. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?” (HR. Al-Askari dari Anas ra dalam kitab Kashful Khafa’ Jilid II, h.62)
Hikmah laksana hak milik seorang mukmin yang hilang. Di manapun ia menjumpainya, di sana ia mengambilnya (HR. Al-Askari dari Anas ra)

Begitu banyak ilmu dan hikmah yang disebarkan Alloh subhana wata’ala di dunia ini. sering kita menemukannya dari pelajaran di lembaga pendidikan, nasihat-nasihat orang tua, diskusi dengan teman, bahkan saat kita menyaksikan apa yang terjadi di pinggri jalan. Kekayaan ilmu yang Alloh miliki kita yakin, tak pernah terbatas. Mengingat salah satu asma-Nya al-Alimu, Maha Mengetahui.

Sebagai manusia kita diwajibkan untuk membaca, wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang pertama kali : Iqra’, bacalah!. Membaca ayat Alloh yang tersirat dan tersurat di dunia ini, serta kemudian memahaminya adalah sebuah ikhtiar untuk menguatkan tauhid kita. Banyak cara yang bisa digunakan manusia untuk memahami ayat-ayat Alloh tersebut.

Beberapa saat yang lalu, saya mendapatkan sebuah ‘pencerahan’ dari seseorang yang saya kurang respect sebelumnya. Karena kebiasaan dan tingkah lakunya yang membuat ilfil. Dasarnya sudah tidak suka, ya sudah apa yang dia bicarakan saya anggap tidak penting. Namun ternyata memang sikap saya yang salah. Saya terpekur saat ia mengungkapkan beberapa nasihat ampuh yang berkaitan dengan kuliah..

Pada kesempatan lain, saya akhirnya mengerti bahwa pelajaran (dalam bahasa lain disebut hikmah) tidak cukup hanya berasal dari hal-hal yang kita anggap penting atau baik. Dalam kasus saya, dari anggapan negatif yang saya miliki, masih ada sisi positif, pelajaran yang dapat saya ambil. Sekalipun tidak kemudian saya menyetujui sisi dirinya yang lain.

Tidak boleh menutup diri dari hikmah atau ilmu, dari manapun sumbernya, selama sesuai dengan prinsip seorang muslim yang seutuhnya. Sebab bila hal itu yang dilakukan, kita akan tergelincir pada sifat merasa benar sendiri. Bukan fitrah manusia beriman bukan?

NB. Nuruhun pisan nasihat-na, Gus!

One response to “Jangan Tinggalkan Hikmah

  1. Menarik juga, hi2 ada hal2 yang dipandang sebelah mata? mungkin karena kita belum mengetahui potensi apa yang ada padanya, ternyata ada pelajaran yang berharga yang dapat dipetik. Namun walaupun begitu bukan berarti kita menerima secara mentah2 dari hal2 yang kita anggap sepele tadi namun perlu juga sebuah proses penyaringan, apakah hal2 itu pantas atau tidak dalam kaca mata dien. Sehingga hikmah yang kita dapatkan benar2 menghasilkan suatu yang positif pada diri kita masing2 bukan malah sebaliknya. Kita udah dewasalah ya, bisa memilah2 mana yang benar dan salah. Top! Lanjutkan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s