Cukup Islam, tidak Kurang tidak Lebih

Hari ini, di mana Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam telah diutus ke muka bumi untuk menyebarkan ajaran Islam berabad-abad lalu, ternyata kita sangat akrab dengan permisifisme. Bahkan kita sangat permisif dengan perbedaan-perbedaan yang ada, di kalangan umat Islam sendiri.

Perbedaan mengenai perayaan maulid, perbedaan mengenai salaman dengan non-mahrom, perbedaan dalam menykapi hari raya agama lain, perbedaan ulama. Perbedaan karena dasar beda golongan, beda uztad, beda pandangan hidup. Dan kita hanya menyikapinya sebagai fitrah dalam kehidupan. Pernahkah kita mendengar bahwa hadits mengenai “Perbedaan di kalalangan umat Islam adalah rahmat”? Dan tahukah kita kalau hadits tersebut dhaif, dan berentangan dengan Qur’an?

Agaknya kita perlu ingat bahwa memang Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam memang diutus oleh Alloh berdekatan dengan hari kiamat. Di hari tersebut, umat Islam terpecah menjadi 73 golongan. 1 golongan selamat karena mengikuti Qur’an dan Sunnah, 72 lainnya masuk neraka.

Dari Auf bin Malik ra berkata, “Bersabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam “Yahudi pecah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu di surga tujuh puluh masuk neraka. Nasrani pecah menjadi tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu masuk neraka yang satu masuk surga. Dan demi jiwa Muhammad yang ada dalam genggaman-Nya, umatku akan pecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, yang satu masuk surga dan yang tujuh puluh dua masuk neraka.” Kemudian Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?” Beliau-pun menjawab, ‘AI-Jama’ah.”

Berdasarkan hadits ini, banyak golongan yang kemudian berlomba-lomba mengatakan diri mereka menjalankan Qur’an dan Sunnah. Mereka yang jelas melakukan kesalahan-kesalahan, dengan jelas menisbatkan diri memiliki visi dan misi sesuai dengan golongan yang selamat. Semudah itukah?

Islam telah sempurna, inilah yang kita yakini dalam QS. Al-Maidah ayat 3 :

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Manakah yang sebenarnya kita cari? Ridho Alloh yang mengantarkan kita ke syurga, atau hanya mati2an kita mengumpulkan pahala untuk masuk syurga? sementara penentu berhak-nya kita memasukinya adalah Alloh ta’ala? Golongan yang mana yang sebenarnya lurus, dan pantas mendapatkan ridho Alloh, tentulah hanya Alloh yang Maha Tahu. Dan siapakah yang ternyata mengambil cara yang salah.. wallohu’alam..

Namun yang pasti Islam yang sesungguhnya, islam yang benar, tidak kurang dan tidak lebih adalah Islam yang menjalankan ajaran Qur’an dan Sunnah. Dan yang tergolong selamat adalah mereka yang mengikuti dan menjalankan penuh keyakinan perintah Allah dan nabiNya dengan kaffah dengan berlandaskan sifat keMaha Adilan Allah.

Dan sebagai manusia kita hanya mampu berusaha, memenuhi syarat-syarat golongan yang selamat, semampu mungkin. Lalu menyerahkan keputusannya kepada Alloh ta’ala. Berusaha dan berdo’a agar kita digolongkan manusia yang selamat di hari akhir nanti. Wallohu’alam..

9 responses to “Cukup Islam, tidak Kurang tidak Lebih

  1. @ tarbiyatul banin & iwan
    sejak dulu hukum Islam memang sudah baku, tinggal mengamalkan semaksimal mungkin.. yang tahu dan menilai yang benar hanya Alloh..

  2. bukanlah terdapat hadits lain yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan solusi dari perpecahan yang ada di tubuh umat Islam seperti saat ini???yaitu kita wajib mengikuti sunnahnya Nabi dan sunnahnya khulafaur rasyidin (para sahabat)…???dan di hadits lainnya pun dikatakan bahwa solusi perpecahan seperti saat sekarang ini adalah kita wajib berjalan pada jalan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum berada di atasnya???
    apakah ukhti sudah tahu hadits tersebut???
    mengapa kita tidak menaati solusi yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut agar kita selamat dari perpecahan yang ada seperti sekarang ini???

  3. @ hamba Allah
    ya, yang saya maksudkan seperti itu.
    menurut saya, dan memang begitu adanya…
    Islam tetap Islam…
    yaitu yang mendasari hukumnya dari Qur’an dan Sunnah…

    sampai hari kiamat tetap demikian bukan..
    saya hanya ingin kembali mengingatkan hukum islam yang sudah pasti..
    yang berdasarkan dua hal yang ditinggalkan Rosululloh..

    yang mengaku2 menjalankan islam tetapi melenceng dari hukumnya itulah
    entah, islam yang mana..

    • lalu bagaimanakah kita membedakan antara al jamaah sejati dengan al jamaah yang imitasi??
      karena berdasarkan realita yang ada bahwa semua kelompok Islam mengatakan bahwa mereka adalah al jamaah, yaitu mereka berpedoman dengan al qur’an dan sunnah??
      siapakah al jamaah yang asli dan siapakah al jamaah yang imitasi?

      • manusia hanya mampu berusaha, hak untuk menentukan kita benar2 menjalankan aturan Alloh sepenuhnya adalah Alloh. Bukan dengan mengatakan kita adalah yang paling benar.

        manusia hendaknya selalu ‘membaca’. Mencari kebenaran semaksimal mungkin sebagai ikhtiarnya di dunia ini. Wallohu’alam…

        kita selalu berdo’a agar Alloh menjadikan kita umat yang selamat.

  4. apakah kita tidak boleh mengatakan bahwa diri kita benar jikalau diri kita memang berpegang teguh dengan Qur’an dan Sunnah di atas pemahaman yang benar?
    dan apakah diri kita tidak boleh berdakwah mengajak orang lain untuk mengikuti Qur’an dan Sunnah di atas pemahaman yang benar jikalau diri kita memng berada di jalan yang benar?

  5. saya tidak bisa men-judge seseorang ia benar atau salah, sebab saya tidak pernah bisa mengenal orang secara keseluruhan. Dan lagi, tidak ada hak saya untuk menyatakan demikian.

    Rahmat Alloh ada di mana2, termasuk pada hal2 yang saya mungkin tidak tahu. Namun sebagai muslim yang selalu berusaha meraih rahmat-Nya, dan sebagai muslim yang meyakini bahwa Islam=Qur’an dan Sunnah, hendaknya selalu berusaha memantapkan iman kita dengan haqqul yaqin dan ainul yaqin.

    Wahyu Alloh yang diturunkan pertama kepada nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam adalah kata ‘iqra’, manusia diwajibkan selalu berusaha, menuntut ilmu dengan cara yang baik. Wallohu’alam, saya hanya mampu berusaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s