Ikhtiar sampai Angka Delapan

Manusia dikaruniai oleh Alloh begitu banyak kelebihan dibandingkan makhluk Alloh lainnya. Nafsu dan akal, kemampuan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Manusia dikaruniai cara mengenal Alloh dengan cara yang berbeda-beda.
Nafsu menghadirkan ‘keinginan’ dalam diri manusia. Bagi sebagian orang, keinginan itu terwujud dalam cita-cita, tujuan hidup yang ingin ia capai. Manusia dikaruniai kemampuan berpikir dan memilih cara yang mana yang mendekatkan dirinya dengan tujuan tersebut.
Tujuan hidup dan harapan, sebuah rangkaian kata yang lekat dengan ikhtiar manusia dalam kehidupannya. Pemahaman akan makna hidup dan kekuatan aqidah, dua hal itulah yang menentukan apakah Alloh ada dalam niat serta usahanya mencapai tujuan hidup.
Selain berusaha, seseorang menggantungkan cita-citanya pada harapan. Harapan akan kemudahan-kemudahan ikhtiar, harapan mendapatkan dukungan dari orang lain, dan harapan terbesar, tercapainya cita-cita / tujuan hidup tersebut. Dan sebagaimana fitroh manusia, dua macam cara mengarahkan harapan itu. Benar-benar fokus pada tujuan yang terlihat, atau menyadarkan diri bahwa Alloh ta’ala-lah yang menentukan akhir ikhtiar seorang manusia.
Manusia boleh yakin, berencana, dan berikhtiar sekuatnya, namun untuk tetap berada pada aturan Alloh sesuai fitroh kehidupannya di dunia ini, hendaknya ada batasan harapannya di dunia terhadap sesama makhluk. Sebab hidup manusia bukan dipertanggungjawabkan di dunia ini saja, kepada sesama manusia melainkan kepada Alloh ta’ala.

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah : 24)


Bila harapan terhadap ikhtiar manusia berada pada skala nilai 1-10, ambillah angka 8 sebagai batasan ikhtiar kita sebagai manusia yang dikaruniai kelebihan, kemudian tempatkanlah dua angka tertinggi dalam skala tersebut sebagai tawakkal, berharap pada Alloh. 9 dan 10 membuat hati manusia ikhlas dalam segala bentuk ikhtiarnya. Sebagaimana kita memahami angka 10, kesempurnaan, yang hanya dimiliki ia, Sang Maha Sempurna.

NB.
• Angka 8 bukan tendensi atas nomor partai atau nama tertentu (kebetulan saya tidak berpaham demokrasi), apalagi melambangkan serpent (ular).
• Kepada yang ada di sebelah selatan kota Jogjakarta, ingat selalu angkan 8 ya! ^_^

2 responses to “Ikhtiar sampai Angka Delapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s