‘Ngeplak’ Seenaknya

The “horrible examples” won’t be found in every school. However, they result from a faulty philosophy of education which influences all public schools (and many private institutions). That faulty philosophy (1) has produced schools which are failing children academically, (2) is subjecting children to wrong moral influences, and (3) establishes the foundation from which education “reformers” are working to remake our children, our society and our culture.

“The goal, which the radical educators spelled out in their writings and speeches, was using the schools to create “a new social order.”

NONDARE CALL IT EDUCATION – John A Stormer

Sudah lihat tiga kali video eksklusif Metro TV kemarin (08/02)? Itu lho.. yang rekaman kekerasan di STIP (lagi2). Seperti video-video kekerasan di dunia pendidikan sebelum-sebelumnya. Ada beberapa kakak senior yang ‘nyiksa’ adik2nya di lingkungan kampus. Kalo yang kemaren sih, saya liat udah bukan ‘nyiksa’ lagi, udah mau nge-bunuh kali. Bisa2 makin dekat kiamat bakal beredar gratis di media2, video kekerasan yang menampilkan ‘big massacre’, hii…

Kayak belajar dari masa lalu, mas2 senior itu tanpa malu2, tanpa inget kalo adik2nya itu anak orang, ‘ngeplak’ seenaknya bagian muka dan mukulin beberapa bagian tubuh mereka. Lebih keras, sampe berdarah2 (‘ngeplak’ berasal dari bahasa Jawa di beberapa daerah artinya ‘memukul dengan tangan, lima jari terbuka, mengacu pada pukulan yang sangat keras ). Ya belajar dari masa lalu, meskipun dibuat tahun 2006 (saya ndak berani jamin kalo that institution benar2 sudah bersih dari kekerasan macam itu)., soalnya lebih dahsyat, lebih keras dari video2 sebelumnya. Seolah-oleh video itu dibuat karena mereka pengen menyaingi tayangan-tayangan reality show di tipi2, pengen diajak syuting juga kali, bosen sekolah di institusi calon pejabat.

Kalo sudah begini, pengusutannya juga tidak bakal terlalu serius kelihatan. Paling berita ini bakal booming sekitar beberapa pekan atau bahkan cuma beberapa hari, trus tau2 beberapa bulan kemudian, ada berita mereka cuma dihukum beberapa tahun di bui. Atau malah hanya kena skorsing beberapa saat lalu jadi siswa biasa lagi. Besoknya, setelah itu juga bakal ada lagi. Sampe cape bikin mereka yang ngaku senior itu kapok. Hiks..

Sing salah sopo? Ruweth juga kalo ditanya begini. Soalnya mau nyalahkan hukum, nyalahkan pendidikan, nyalahkan institusi, semuanya jawab sistem-nya yang salah. Tapi memang kenyataannya begitu. Sepertinya kita juga sering dengar, kalo per-peloncoan (model orientasi) yang seperti itu memang berdasarkan ‘tradisi’ (=sistem). Kurikulum pendidikan akademis yang tidak banyak memerhatikan kecerdasan emosional (=sistem). Pelajaran agama (yang bener lho..) di tingkat perguruan tinggi hampir nihil (=sistem). Ya memang begitu kan adanya?

Kalo saya sih melihat sistem pendidikan di Indonesia raya tercinta ini tidak baik-baik aja. Mulai dari permasalahan biaya, kurikulum yang tidak pas dengan dunia kerja, ilmu-ilmu impor yang mendistorsi aqidah dan moral, lalu jam belajar membengkak, tugas menumpuk dan cenderung buat stress, ujian yang hanya berisi pengetahuan yang bisa dihapal tanpa dipahami, lingkungan belajar juga yang amburadul. hiks..hiks.. ini bukan catatan pengalaman pribadi lho, melainkan pandangan general saya saja yang tidak buta2 amat dengan dunia kampus dan sekolah dilengkapi beberapa referensi.

Anda merasa baik2 saja? Yah, mungkin ada yang tidak baik2 saja pada diri anda.. hi2.. Mari rajin membaca!!

****

Special Quote :

” Apa saja yang disebutkan dalam Al-Qur’anul Karim merupakan informasi yang sebahagiannya berupa ilmu pengetahuan yang disediakan Alloh untuk kemaslahatan dalam kehidupan. Dan dalam rangka mengaplikasikan hidup manusia kepada aturan-aturan yang dikehendaki-Nya yang banyak mengandung rahasia berupa hikmah.

Agar supaya perjalanan kehidupan orang beriman tertuntun oleh hidayah Alloh menuju jalan keridhaan-Nya. Hal tersebut baru akan bisa dilakukan ketika manusia pandai-pandai mensyukuri apa yang telah diberikan-Nya berupa fakultas-fakultas inderawi fisik dan nonfisik. Sehingga akan menjadikannya sebagai pribadi yang menurut Alloh sendiri disebut Ulul Albab. “

5 responses to “‘Ngeplak’ Seenaknya

  1. Ya memang tidak ditemukan disetiap sekolah kejadian kayak gitu.. itu pendidikan yang memang menghasilkan ‘premanisme’. Bukan mendidik menjadi yang lebih baik-cerdas- dan moral yang baik. Jelas kalau itu sama sekali tidak ada pendidikan moral dan budi pekerti. Jadi memang modal sosialnya sangat lemah, termasuk tidak ada nilai-nilai menghargai orang lain, institusinya masih lemah, juga mekanisme pendidikan disana, belum sepenuhnya baik.. Apa tidak ada pendidikan agama Islam ya?

    • bagaimana lagi kalo memang itu sudah mengakar sebagai tradisi di lingkungan sekolah, sejak beberapa puluh tahun pola per-peloncoan, identitas senior-junior, masa orientasi yang begitu bahkan mungkin sudah jadi ‘nilai’, wajib dilakukan kalau mau diterima..
      yang perlu diperhatikan justru perilaku sosial yang sudah terbentuk. Sebab mau peraturan bagaimanapun, kalo masih bisa main2.. tidak jalan juga kan..

      • uos..ya dirubah saja hubungan patronasenya halah.. biyar ada sejajar gitu.. tapi memang sulit, perbedaan usia juga berpengaruh kuk..

  2. Di sekolah berasrama, kekerasan kayak gitu biasa terjadi.
    Aku jg pernah merasakannya. Dan, itu biasa aja terjadi.

    Hanya saja memang pasca terbongkarnya STPDN dulu. Masyarakat jadi sensitif dg berita seperti ini.

  3. oe..
    biarpun masuk pendidikan formal tidak gampang, tetap tidak boleh mestinya ada kekerasan yang mem-budaya..
    kecuali kalau memang yang seperti itu sudah terlegalkan..
    hikx…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s