Bintang-Bintang di Wajahku

Bintang-bintang itu berbentuk bulat kecil, bukan pentagram seperti yang selama ini digambarkan  banyak orang.  Seperti bintang di angkasa, hanya bedanya bintang yang ini tak memancarkan sinarnya sendiri.

Bintang itu datang tiba-tiba ketika aku beraktivitas seperti biasa. Di antara penat jiwa dan ragaku karena aktivitas pendidikan formal yang sudah kembali padat semester ini. Sudah semester 6, aku menjadi seorang mahasiswi. Menjalani masa-masa ‘tua’ sebagai mahasiswa S1, kuliah teori penghabisan, kuliah kerja nyata, skripsi, dan tentu wisuda. Hmm.. rasanya baru kemarin..

Rasanya baru kemarin aku menjadi seorang yang mengejar mimpi2 besar dengan memilih jurusan impianku di universitas. Berkarya di bangku kuliah dan mengejar profesi tertentu setelah lulus nanti. Peta kehidupan yang kutata sejak kelas satu sekolah menengah atas sampai trisemester pertama menjadi mahasiswa.

Bukan mimpi itu bukannya hilang, hanya saja berganti menjadi peta kehidupan baru yang lebih jelas, lebih indah, meskipun lebih sederhana secara kasat mata dibandingkan mimpi awalku dulu. Aku tetap ingin membahagiakan orang tua serta semua yang menyayangiku, aku tetap ingin bermanfaat bagi orang lain, aku tetap ingin beramal shalih dengan kedua tanganku. Aku tetap ingin ridho Alloh ta’ala..

Aku mengganti mimpi dan peta kehidupanku bukan tanpa alasan. Beberapa, bila tak bisa dikatakan banyak. Aku tak menyesal dengan taqdir Alloh mengantarkanku hingga titik ini. Mungkin bila tak melalui jalan yang sekarang, aku tak akan mampu memutuskan mengambil sikap atas hidupku saat ini. Alloh-lah yang memberikan rahmat-Nya, bukan karena jerih payahku.

Aku semakin mengerti saat bintang-bintang ini hinggap di wajahku, ialah penghiburku di antara kepenatan sistem pendidikan formal yang kurasakan begitu sesak. Membuncahkan kegelisahan-kegelisahan sejak semester tiga yang lalu. Yang kini semakin membuatku tak betah berada lama-lama di bangku kelas kuliahku.

Sudahlah, aku tak mau menghabiskan tenaga untuk membenci kuliahku, menentang sistem yang telah mapan (kelihatannya), sebab akulah juga yang memilih untuk ada di sana. Harapku, hanya ingin menjalani sisa waktu kuliahku sewajarnya, menghadapi sisa program universitas yang harus kulalui sebelum menjadi sarjana. Legowo, santai saja, asal jangan terlalu lama. Biarlah UNESCO berbuat semaunya ikut mengarahkan pendidikan tinggi di bangsa ini ke mana.. asal aku tetap mampu ‘bertindak’ dengan cara yang lain.. yang lebih cerdas. Amin.

Bintang-bintang di wajahku menemaniku merenung beberapa hari libur dari kampus. Insya Alloh, mereka pun mengingatkan aku bersyukur atas garis hidup yang kulalui karena kuasa-Nya ini. Wallohu’alam..



4 responses to “Bintang-Bintang di Wajahku

  1. Assalamu’alaikum,

    Bintang2 itu membuat orang disekitarnya merasa cemas, panik, dan banyak orang menghindar karena takut. Tetapi bagi sebagian sahabat, maupun orang yang menyanginya, merasa kasihan dengan keadaan itu. Dalam keadaan ini, genduk bisa melihat bahwa sahabatmu masih ada yang peduli untuk memberikan dukungan yang terbaiknya, melewati masa-masa yang sulit itu. Ingatlah sahabatmu tidak pernah melupakan genduk, dan ingin tetep melihat genduk ceria sepanjang hari.. ^_^

    Salam super hangat
    Kanjeng Romo Gatot Koco

  2. Wa’alaykumussalam…
    tentu saya sangat bisa merasakan itu..
    insya Alloh, yang mengikat adalah kekuatan persaudaraan islam..

    Sip! terimakasih banyak!🙂

  3. Kalau aku menunggu rembulan aja, may..

    “Bersyukur atas apa yang ada. Bahkan dalam telatnya pengerjaan skripsiku aku terus khusnudzon, yakin bahwa semua ini ada hikmahnya…”

  4. hiks.. yaya2 smpai bulan agustus atau waktu yang lebih tepat, nantikanlah rembulan itu,..

    sudut pandang skripsi memang ngeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s