Sebuah Komentar Panjang

Pada tulisan saya sebelumnya, mengenai Iblis Musuh Abadi yang Sebenarnya, ada sebuah komentar dari pengungjung. Karena menurut saya komentar ini penting, terutama untuk menyempurnakan tulisan tersebut, saya buat menjadi posting baru. Kepada komentator, sdr Soelfan, terima kasih atas komentarnya, senang mendapat masukan dari ahli, sama seperti yang saya maksudkan dalam tulisan tersebut. Semoga Bermanfaat..!

***

Ass. Wr. Wb.

Tulisan Anda seperti biasa, singkat, padat tapi mengena.  Namun dalam artikel di atas ada yang terlewat, sebenarnya tidak hanya manusia yang dilengkapi dengan akal dan hawa nafsu, tetapi juga Iblis.  Ketika Iblis dari golongan Jin (QS al-Kahfi 18:50) membangkang kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dia dikutuk sampai menjelang hari Qiamat dan diberi gelar Setan.

Jadi Setan inilah yang terdiri dari jenis Jin dan Manusia yang menjadi musuh agama Tauhid sebagai sesuatu yang sunatullah sebagaimana dijelaskan dalam QS al-An’am 6:112:

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”

Pucuk pimpinannya memang Iblis, sedangkan pelaksana dilapangan setan dari jenis Jin dan Manusia yang bekerjasama untuk menyesatkan Jin dan Manusia lainnya dengan metoda yang sangat ampuh melalui brainwashing atau cuci otak berupa makar yang dilaksanakan dengan tipu daya sebagaimana diungkapkan sendiri oleh Iblis dalam QS al-Hijr 15:39:

“… pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”.

Para pelaku makar atau konspirasi melaksanakannya dengan 1001 macam teknik tipu daya dan yang paling efektif a.l. melalui media massa serta dunia pendidikan, khususnya pendidikan sekuler.  Hasilnya “dengan gemilang”  sebagaimana dikatakan oleh seorang orientalis, Samuel Zwemmer pada tahun 1935:

“Tugas kita adalah mengeluarkan kaum muslimin dari Islam. Membuat mereka mengekor pada pengajaran, kekuasaan, dan pemikiran kita. Dalam masalah ini kita telah berhasil dengan gemilang. Kita melihat bahwa setiap orang yang lulus dari lembaga-lembaga pendidikan – bukan saja lembaga-lembaga pendidikan missionaris, tetapi lembaga-lembaga pendidikan umum baik negeri maupun swasta – yang menganut kurikulum yang telah kita susun dan telah kita tatarkan kepada ahli-ahli pendidikan, mereka telah keluar dari Islam dalam perilakunya, walaupun namanya tetap muslim. Mereka kemudian masuk dalam orbit politik kita tanpa terasa atau menjadi orang yang tidak membahayakan bagi eksistensi kita. Sungguh, ini keberhasilan kita yang tidak ada bandingnya.”

(Media Massa dewasa ini 95% dikuasai Zionis)

Mereka telah berhasil dalam memurtadkan orang Islam namun tidak dirasakan oleh si korban dan ini sudah berjalan selama lebih dari 75 tahun-an. Jadi konsekuensi logisnya masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam ini menjadi carut-marut karena tidak konsisten dalam melaksanakan ajaran agamanya sebagai akibat langsung dan tidak langsung makar setan, walaupun negeri ini paling kaya di dunia dengan kekayaan alamnya, tapi toh rakyatnya hidup miskin dan susah, kekayaan yang semestinya bisa mensejahterakan rakyat, justru hanya beredar pada segelintir orang-orang kaya dan koruptor serta dinikmati negara lain.

Tak ayal kondisi yang dijelaskan oleh Samuel Zwemmer tersebut meyuburkan ajaran Theosofi. Perhimpunan Teosofi didirikan pada tahun 1875 di kota New York oleh Helena P. Blavatsky dan Teosofi di Indonesia bernama Perwathin berdiri tahun 1963.  Gerakan yang didirikan oleh Blavatsky ini merupakan cikal bakal dari gerakan Pluralisme yang sekarang diusung oleh gerakan liberal seperti  Jaringan Islam Liberal (JIL), Feminisme, dan semua orang yang berpandangan semua agama itu sama saja (pluralisme).  Gerakan  Pluralisme yang  sekarang diusung oleh gerakan-gerakan liberalis tokohnya adalah Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid.

Apakah para penghusung gerakan pluralisme menyadari sebenarnya Helena P. Blavatsky adalah seorang penyembah Setan sebagaimana dia menjelaskannya dalam sebuah buku berjudul “The Secret Doctrine sbb: “… Setan adalah Tuhan dari planet kita, dan hanya satu-satunya Tuhan. Setan (atau Lucifer) merupakan Energi Sentrifugal dari alam semesta ini sebagai simbol pengorbanan diri untuk kemerdekaan intelektual umat manusia.”

Tidak aneh jika gerakan liberalis saat ini amat dekat dengan Illuminati (Teosofi, Zionis dll masuk ke dalam kontrolnya), walau bisa saja tokoh-tokohnya diberi gelar ‘Kyai Haji’.

Gambaran di atas merupakan keberhasilan setan dalam mencuci otak manusia seperti ditegaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala sbb:

“Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman.” (QS Saba 34:20)

Bukankah gambaran dewasa ini sesuai dengan hadits di bawah ini, silahkan Anda menilainya sendiri.

Akan datang suatu kaum diakhir zaman yang keadaan wajah mereka seperti manusia biasa, tetapi hati mereka adalah hati setan, sebagaimana seringala yang menyerang (karena lapar) yang tidak ada dalam hatinya  rasa kasih sayang bahkan mereka sangat haus darah yang senantiasa tidak ada pada mereka kecuali kejahatan dan kejelekan, jika kalian mengikuti mereka, maka mereka  memperdaya kalian, kalau kalian menghindar dari mereka mencela  kalian, kalau mereka berbicara dengan kalian mereka selalu berdusta, kalau diamanati oleh kalian mereka berkhianat. Mereka itu sejak kecilnya badung, pemudanya jahat dan licik, dan saat tuanya tidak  memerintah yang baik dan mencegah keburukan.  Mengagap mulia terhadap mereka adalah suatu kehinaan, meminta sesuatu pada mereka adalah suatu kefakiran, bersahabat dengan mereka adalah kebodohan, memerintah berbuat baik kepada mereka sia-sia, orang yang beriman diantara mereka ditindas, orang yang gemar berbuat kejahatan menjadi terhormat, suatu sunnah akan menjadi bid’ah dan suatu bid’ah akan menjadi sunnah, disaat itu para penguasa adalah orang-orang yang paling jahat maka pada saat itu do’anya orang yang baik-baik pada saat itu tidak akan dikabulkan. (H.R Ahmad)

***

2 responses to “Sebuah Komentar Panjang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s