‘Ngirim’ ing Sasi Ruwah

Berada di tengah2 masyarakat kadang dilematis. Mesti bergaul dengan mereka. Beramah tamah dengan kebiasaan2 setempat. Menunda penerapan prinsip (ilmu yang kita tau kebenarannya).

Tersebutlah di tempat saya berkuliah kerja nyata, kampung X di bagian barat provinsi DIY. Hanya satu contoh kecil yang ternyata tidak bisa membuat saya membutakan mata hati. Bulan sya’ban atau lebih dikenal bulan ruwah buat orang Jawa, menjadi saat2 di mana ‘ngirim’ leluhur merupakan kewajiban. kata ruwah berasal dari kata arwah, atau saat2 arwah orang yang sudah meninggal didoakan agar terang jalannya di akhirat.

Beberapa keluarga yang mampu, mengadakan acara tahlil bersama, mengundang bapak2 dan ibu2 untuk membacakan kalimat thoyyibah dan surat yasin. Tahlilah dan Yasinan itu digelar pada malam jumat setiap pekannya, pukul 18.30 (ba’da maghrib). Tempatnya di masjid tengah2 kampung.

Saya dan kawan2 yang memang dituntut untuk dapat merebut hati masyarakat demi suksesnya program kuliah kerja nyata, datanglah ke acara tersebut. Harus ada banyak alibi agar saya tidak mengikuti acara tersebut dengan semestinya. Salah satunya membawa Al-Qur’an sendiri, sehingga ketika para jama’ah baca surat Yasin, saya dan kawan2 membaca bagian surat Al-Qur’an yang lain. Lalu beberapa kali akting pusing atau mengantuk sehingga tidak sempurna mengikuti bacaan pak Kaum.

***

Bukannya karena tidak tulus atau apa. Saya dan kawan2 tahu bahwa tidak ada syariat dalam agama Islam yang mengajarkan hal tersebut. Seseorang yang telah meninggal telah putus amal perbuatannya kecuali 3 hal. Salah satunya adalah do’a anak yang shalih. Jadi persoalan mendo’akan itu sudah menjadi kewajiban dari pihak keluarga dekat, dengan syarat ‘shalih’ tadi. Jadi sekalipun anak sendiri mendoakan, jika ia tidak memiliki kriteria tsb, ya wallohu’alam diterima atau tidak…

Hm, mari melihat dari sisi yang kelihatan saja. Ada beberapa hal yang agak aneh di acara yang saya ikuti :

1. Dua sisir pisang raja yang ditaruh di depan pak Kaum (pemimpin pengajian), dido’akan dan kemudian dibagi ke orang2 yang datang. Biar dapat berkah katanya.

2. Ngirim yang dimaksud bukan sekadar memanjatkan do’a untuk yang telah meninggal, melainkan juga mengirimkan ‘ganjaran’ (pahala) bagi almarhum/almarhumah. Bertolak belakang dengan 3 hal yang terputus setelah meninggal. Ehm, apalagi belum tentu orang yang ikut ‘ngirim’ sudah cukup bagus amal perbuatannya sehingga bisa ‘ngirim ganjaran’.

3. Menyebutkan nama2 secara langsung –> khususun alhamrhum A fil qubri, makam X fil qubri, dst. Sehingga do’a2 kadang terputus karena pak kaum salah menyebutkan nama.

4. Lewat waktu sholat isya’, bahkan pada saat adzan dikumandangkan do’a2 tidak berhenti. Sholat jama’ah isya baru dilakukan menjelang pukul 20.00. Kalau tidak salah, ibadah yang dihisab pertama kali di akhirat kan sholat wajib ya?

Model pencucian otak melalui budaya memang paling halus dan hampir tidak terasa. Sampai masyarakat tidak mampu membedakan mana budaya dan mana tuntunan agama. Untuk amannya, agama dipisahkan dari kehidupan sehari2, dianggap hanya ada di wilayah ritual dan privasi. Yang tersisa hanya model2 manusia sekuler. Washed perfectly.

One response to “‘Ngirim’ ing Sasi Ruwah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s