Bukan dengan Lagu Religi

Ramadhan tiba. Bulan yang satu ini memang luar biasa. Semua orang menuyambutnya dengan berbagai cara sesuai tendensi masing-masing. Yang menganggap Ramadhan sebagai waktu sakral, mereka menyambutnya dengan ritual-ritual kuno yang sarat makna ; padusan atau memukul bedug. Berbagai ritual yang kandungan maknanya hanyalah karangan, ditambah-tambahi secara hiperbolis agar terkesan memiliki filosofi mendalam. Semua orang bisa mengarang filosofinya bahkan sampai pada detail pernak-perniknya diberi makna dan filosofi. Padahal boleh jadi yang menciptakan ritual itupun tidak ‘sampai segitunya’ memaknai ritual buatannya.

Bagi para penjaja suara, Ramadhan menjadi momentum tepat untuk menunjukkan eksistensinya. Untuk para nasyider, bulan ini akan menjadi ‘berkah’ bagi mereka karena lagu-lagu mereka akan kembali dilirik dan dipilih dalam playlist pemutar musik. Sedang bagi para penyanyi dan band-band non-Islami mereka mulai banting setir, mengubah tema lirik lagunya agar nyerempet-nyerempet tema islami. Seperti taubat, memuji ramadhan atau sanjungan lepada ‘tuhan’, ‘Ya tuhan’. kebanyakan mereka lebih senang dengan sebutan ‘Tuhan’ daripada Alloh. Akibatknya kita sering susah membedakan apakah ini lagu islami atau lagu gereja. Lalu mereka menamainya dengan album religi. Tak perlu pusing soal profil diri. Seperti apapun tingkah polah si penyanyi di luar Ramadhan, toh lagu mereka akan tetap digandrungi. Perceraian, perselingkuhan, kebiasaan memamerkan aurat, dan gaya hidup yang sama sekali tak menampakkan religiusitas yang melingkupi kehidupan sang penyanyi.. percayalah, itu semua itu tidak akan digubris oleh penikmat lagu. ” Yang penting kan isinya, soal siapa yang nyanyi , itu urusan dia sama Yang di Atas.”

Para senias pun telah menyiapkan berbagai macam sinetron religi. Tidak sulit membuat sinetron religi. Ganti saja judulnya dengan hal-hal berbau Islam. Atau, dengan melibatkan seorang artis yang biasa berjilbab, bisa juga dengan hanya menambahkan adegan shalat dan rintihan do’a dalam pikiran saat terkena musibah atau didzalimi tokoh antagonis. Itu sudah cukup. Tidak perlu harus mengkonsep sinetron yang sarat makna dan dakwah Islam, malah bisa-bisa nggak laku atau memunculkan polemik. Sedang bagi para pedagang, operator seluler, perusahaan obat, swalayan dan lainnya, Ramadhan adalah sale moment yang tidak boleh diabaikan. Berbagai promo, paket-paket religi dan undian digalakkan untuk meningkatkan pembelian. Bahkan para bandar judi pun ikut menyambut Ramadhan dengan menggelar sayembara judi ‘Islami’. Judi SMS dikemas dengan berbagai hal berbau religi untuk menghilangkan kesan judinya. akibatnya, tidak sedikit kaum muslimin yang berjudi sambil menunggu buka atau sahur. Laa haula walaa quwwata illa billaah.

Nah, bagaimana dengan kita? Dengan apa kita akan menyambut Ramadhan? mengoleksi album-album religi di HP untuk diputar saat berkendara? atau memilih salah satu sinetron dan berusaha ‘sitiqomah’ menontonnya sampai akhir? Atau memborong promo-promo Ramadhan untuk hari raya dan sebagai bekal mudik lebaran nanti? Subhanalloh, semestinya tidak demikian. Kita akan memborong dan mengikuti promo serta penawaran bonus yang membanjir, tidak dari manusia, tapi dari Rabbnya manusia. Kita juga akan menonton sinetron, bukan sinetron TV, tapi film dokumneter masa lalu kita dalam ruang muhasabah. Kita juga akan menikmati lantunan, tentu saja bukan lantunan lagu religi, tapi lantunan kalam ilahi.

Bukankah demikian? insya Alloh semoga saja..

disarikan dari majalah Ar-Risalah

edisi 110 vol X no.2. Ramadhan 1431 H



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s