KKN, Berbagi Kisah Pilu

Lepas dari tugas akademis sebagai syarat sarjana. Kuliah kerja nyata. Sedikit menuliskan pengalaman pribadi saja. Entah ini saya alami sendiri atau adakah yang senasib.. tapi tenang, mungkin tidak akan terlalu detail.

Tersebutlah KKN yang tujuannya memberikan pembelajaran pemberdayaan masyarakat. Fase yang dialami seorang mahasiswa tingkat ketiga (tahun normal). Selama dua bulan mahasiswa ditaruh di tengah masyarakat. Dengan serangkaian program yang sudah ditentukan sebelumnya oleh mahasiswa sendiri. Tentu dengan aturan khusus dari lembaga kampus yang menyelenggarakan KKN.

Mungkin memang tradisi KKn sejak dulu, pola kegiatannya ya begitu2 saja. Pekan pertama hanya ada sosialisasi dan penyusunan rencana kerja. Sosialisasi bentuknya sangat formal, pada event2 warga (arisan, dkk). Dan rencana kerja pun rata2 standard. Menyesuaikan masyarakat. hm, memang diakui, pembekalan dari kampus belum memberikan apa2 buat kami. Masih ada katidakjelasan2 yang akhirnya ditafsirkan sendiri. Bagi kelompok KKN yang sudah jelas program dan rajin survei, beruntunglah mereka.

Pekan kedua sampai keempat, sudah ada beberapa kegiatan yang dilakukan. Sebagian besar mahasiswa fokus ke program individu yang tidak berhubungan dengan tema utama (masing2 kelompok KKN di masing2 daerah membawa tema utama). Boleh digambarkan, ada ketidaksiapan koordinasi antara mahasiswa, kepala wilayah setempat, dan masyarakat yang langsung berinteraksi. Sehingga program utama yang sudah terkonsep jauh hari oleh mahasiswa mesti mengalami reduksi, pemakluman, (kalimat yang tepat ‘yo wes lah..’).

Awal bulan kedua, baru mulai matang konsep yang ‘baru’ itu, menyusun rundown kegiatan yang mesti dikebut di belakang. Malang, sang dosen pembimbing yang sejak awal menjanjikan mimpi2 manis tak juga terlihat berusaha mewujudkan mimpi2 manis itu. Mungkin sudah jadi kenangan sebelum sempat bermimpi.

Dua pekan terakhir menjelang penarikan, barulah keribetan menghampiri. Tentang program dan jam kerja yang ternyata tak bisa menutupi syarat dari kampus. Tentang sisa2 kegiatan yang mesti dirampungkan. Tentang laporan2 tertulis yang menjadi parameter keberhasilan KKN. Entah apa yang masing2 mahasiswa dapatkan dari KKN ini? cuma dia dan Tuhan yang tau.

***

Dua bulan, bisa penuh makna, sedikit makna, dan sama sekali tak bermakna. Bahkan malang, ada yang merasa terpenjara bawah tanah plus diikat rantai dalam KKN ini. Ada yang bahagia karena terjerat cinlok. Saya begitu merasakan betapa relativitas esensi dari setiap kejadian adalah tergantung bagi diri kita sendiri.

Dan hal itu tidak bisa dinilai dengan A atau B atau C saja dalam transkrip nilai KKN.

***

Malang dan sayang, sistem yang sudah jadi terlalu kejam untuk memandang banyak faktor X itu. Sistem pendidikan terlanjur nyaman dengan penilaian kognitif. Aspek kecerdasan tertulis. Bukan pada nilai afektif dan satunya lagi.. psikomotor kalau tidak salah. Sepertinya tiada esensi lebih bagi lembaga kampus untuk melihat dengan mata ketiga, keempat, dan seterusnya untuk menilai kualitas seorang mahasiswa.

Nilai KKN ditentukan oleh hitam di atas putih laporan2 yang dengan mudah dapat dimanipulasi. Dan ditentukan oleh dosen serta kepala wilayah, yang nyata2 hanya sedikit sekali berperan dalam KKN kami. Nilai KKN buta pada perjuangan mahasiswa yang benar2 turun ke lapangan, buta pada pandangan masyarakat terhadap kemampuan sosialisasi tiap mahasiswa, buta pada kerelaan mahasiswa untuk menghabiskan waktu dan tenaganya demi kagiatan yang tidak tercatat dalam agenda kegiatan KKN.

Padahal seingat saya, sejak kelas satu SMA saya sudah sering mendengar tiga aspek nilai itu. Katanya untuk mencetak generasi mendatang yang mampu bersaing di era global (sebutan lain new world order..?). Tapi kenyataannya, sampai sekarang, bahkan di universitas ternama tempat saya dan ribuan mahasiswa menggantungkan harapan, hanya nilai akademis, nilai kognitif yang berharga. tidak kurang tidak lebih..

***

KKN adalah miniatur kehidupan yang sebenarnya, mungkin memang demikian. Dalam KKN orang lain menilai diri kita secara individu (walaupun berkelompok). Dan dalam KKN, tiap individu berhak memilih, nilai yang mana yang ingin ia peroleh.

4 responses to “KKN, Berbagi Kisah Pilu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s