Korban Harta, Jiwa, dan Keimanan

Bencana belum mereda. Dari ujung barat kepulauan Mentawai, di tengahnya ancaman gunung Merapi, dan di ujung timur banjir di Wasior. Indonesia yang tengah dirundung duka ini memang sedang sakit cukup parah.

Korban bencana beratus dan beribu jiwa tewas dan luka-luka. Kerugian material dan psikis juga kian memperparah keadaan bumi pertiwi. Kepedulian datang dari penjuru negeri, bahkan dunia internasional dalam bentuk materi, support, atau minimal ucapan bela sungkawa.

Indonesia memang rawan bencana, kata para ahli dan BMKG. Sehingga memang perlu persiapan dari masyarakat dan pemerintah untuk menghadapi setiap potensi bencana tersebut.  Letak geografis dan kerusakan alam secara fisik menjadikan Indonesia ‘akrab’ dengan bencana.

Namun ada satu faktor yang agaknya menjadi kurang penting diperhatikan. Ya, faktor dari dalam diri manusia itu sendiri. Mungkin memang bukan saatnya lagi menyalahkan siapa dan siapa. Merenung pun sepertinya sia-sia, kalau memang hati tidak merasakan, bahwa negeri ini, orang-orang di dalamnya terlalu banyak melakukan ‘kesalahan’. Negeri ini patutnya berkaca, sehingga tidak membuat orang lain tak bersalah jadi korban. Kesalahan apa yang turut berkontribusi pada ‘hukuman’ Alloh pada negeri ini.

Bencana sebuah ujian, sekaligus juga hukuman. Ujian bagi mereka yang beriman, dan hukuman bagi mereka yang telah ‘menantang’ hukum  Alloh. Namun sayang, di saat2 seperti ini, masih banyak dari mereka yang ‘dihukum’ justru tidak merasa karena tidak mendapatkan dampak bencana secara langsung. Sementara yang pilu, yang masih berdo’a adalah mereka yang masih memiliki kekuatan aqidah yang benar.

Sungguh memilukan ketika bencana yang telah mengorbankan harta dan jiwa, masih ditambahi dengan korban aqidah (keimanan). Korban aqidah ini bukan semata2 dengan berpindah keyakinan, akan tetapi pembelokan aqidah yang samar2 dilakukan oleh mereka yang menaruh harapan pada ramalan, juru kunci, mitos2, dan seterusnya. Pembelokan aqidah yang sama2 kita tahu bahwa itu salah namun masih saja dipertahankan (salah satunya demi menjaga kearifan lokal). Dan sungguh sayang, tidak sedikit mereka yang berpendidikan tinggi dan seharusnya juga memiliki kedalaman ilmu agama ternyata belum mampu memberikan sudut pandang yang berbeda, mengapa harus Indonesia yang menjadi salah satu tujuan kemurkaan Alloh? Apakah bencana yang kita alami ini mirip dengan bencana-bencana yang menimpa umat nabi2 utusan Alloh yang tertulis dalam kitab-Nya?

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu[609]: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu “. (QS. Al-Anfal: 38)

karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. (QS. Fathiir : 43)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s