Sebuah ‘idealisme’

Bismillahirrohmaanirrohiiim
Hampir setiap pasangan merindukan sebuah kesempatan dalam hidupnya untuk mencapai kebahagiaan. Saling menyayangi dan mencintai dengan sempurna dengan cara yang semestinya. Cara ini yang kemudian menentukan bagaimanakah sebuah pernikahan itu mampu menjadi ‘sistem’ dalam paling penting dalam perjalanan kehidupan manusia.
Hanya ingin berbagi saja, tentang apa yang ada di kepala dan hati saya. Pernikahan dengan pandangan-pandangan ideal berikut ini adalah versi saya, serupakah dengan versi anda??
Tentang niat. Kedalaman niat menikah bisa berbeda satu dengan yang lainnya. Yang hanya mengejar materi, prestise, dan nafsu syahwat, ada. Tapi ada juga yang berniat menikah untuk memberikan perubahan yang besar dalam hidupnya. Menghindarkan diri dari kebiasaan2 buruk, fitnah, memperbaiki sifat atau pola pikir, memberikan manfaat yang lebih terbuka kepada lingkungan, dan mencari bekal pertanggungjawaban di akhirat.
(antitesis : perspektif beratnya tanggung jawab dalam pernikahan, pengekangan-pengekangan setelah pernikahan)


Tentang memilih dan dipilih. Kesadaran tentang pentingnya partner dalam pernikahan dimiliki sejak awal menentukannya. Partner bukanlah bawahan, dan partner bukanlah seteru. Partner adalah pelengkap. Ia adalah bagian (part) dari diri sendiri. Satu tubuh, bahkan satu sel yang dinamis yang saling membangun. Standard2 seorang partner ditetapkan berdasarkan ‘daya tahan’ standard tersebut. Aqidah lebih mampu bertahan dari sekadar agama, agama lebih mampu bertahan daripada keturunan, keturunan yang baik dalam pandangan islam lebih mampu bertahan daripada penampilan fisik.
(antitesis : penyeragaman makna cantik, peremehan prinsip agama)
Tentang cinta dan kebahagiaan. Kepekaan akan asal muasal cinta yang ada di dalam hati yang bersih mestinya menuntun pengertian cinta antara dua orang yang saling mencintai. Demikian pula kebahagiaan. Bahagia tak pernah dapat dilihat bentuknya, maka bahagia pun tak pernah bisa dinilai dengan semua yang bersifat material.
(antitesis : penilaian berdasarkan pelayanan seksual, harta, kedudukan)
Tentang hak dan kewajiban. Laki2 berkewajiban mencari nafkah, dan perempuan berkewajiban atas rumahnya. Dua hal yang samasekali tidak perlu diperdebatkan oleh seseorang yang dewasa dan memahami alasan di balik pembagian itu.
(antitesis : feminisme, pertukaran kewajiban antara laki2 dan perempuan, pola asuh liberal pada anak)
Tentang nafkah. Keterbukaan pandangan mengenai nafkah menjadi awal kemapanan sebuah rumah tangga. Tidak memasrahkan diri pada status pekerjaan tertentu. Yang lebih dibutuhkan dari status itu adalah kebesaran hati dan kelapangan jiwa untuk meraih rizki-Nya yang bertebaran di muka bumi.
(antitesis : PNS-sentris, laki-laki dan perempuan karier)
Pada dasarnya setiap pernikahan memiliki konteks masing-masing yang tidak bisa selalu diseragamkan. Namun penting untuk memiliki standard atau prinsip yang benar agar pernikahan tidak berbalik menjadi bumerang, menghilangkan fitrah sebagai manusia, atau justru menjadi sarang kekufuran. Na’udzublillah.

***

(ditulis dengan atas nama pengetahuan tentang Islam, idealisme pribadi, dan penentangan terhadap the protocols)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s