Begitu dan Akan Selalu Begitu

Kebutuhan manusia terhadap hiburan dikategorikan sebagai kebutuhan sekunder. Manusia berhak mendapatkan hiburan untuk melepas kepenatan hidup, mencari inspirasi, dan meregangkan jiwa agar tidak kaku.

Kita mengenal berbagai bentuk hiburan, dari yang kita buat sendiri, hingga hiburan yang diindustrikan (industrialisasi hiburan). Industri hiburan hadir sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan akan hiburan yang sekaligus menjadi komoditas ekonomi yang pantas diperhitungkan. Sasarannya, adalah mereka yang telah menggeser hiburan dari kebutuhan sekunder menjadi sejajar dengan kebutuhan primer.

Ketika sisi ‘kebutuhan’ seseorang dikolaborasikan dengan nilai-nilai ekonomi, hasilnya relatif sejalan. Orang umum senang mendapatkan hiburan, sementara pihak industri senang karena mendapatkan rupiah dari ‘transaksi kesenangan’ tersebut. Transaksi kesenangan dalam berbagai metode : musik, film, sinetron, gaya hidup, sampai cerita sang bintang, tak pernah mengenal istilah vakum. Selalu saja ada yang terjadi dan menarik untuk dihadirkan dan dikonsumsi oleh sekian miliar penduduk dunia. Hingga kemudian muncul sebuah dunia yang begitu gemerlap, dengan nama dunia hiburan.

Dunia hiburan ini menawarkan begitu banyak kesenangan, mimpi2 popularitas, dan tentu saja materi yang tak akan ada habisnya. Setiap hari dan setiap saat, ekspose pada para bintang menjadikan hampir setiap orang mau tidak mau menerima pesan dari dunia hiburan. Sebuah dunia yang cenderung bebas aturan, melewati batas2 norma yang ada di dunia lainnya. Dunia hiburan memiliki etika dan standard tersendiri. Apa yang tidak patut menjadi pantas, apa yang buruk menjadi sah, dan apa yang aneh menjadi daya tarik.

Dunia hiburan memang akan selalu begitu. Tak peduli telah mengaburkan jati diri manusia, meracuni akhlak generasi muda, menggeser norma dengan permisivisme. Maaf jika tampaknya rulisan ini terlalu men-general-kan sesuatu. Namun demikianlah pula yang terjadi di dunia hiburan, batasan2 relatif mengarah kepada generalisasi nilai. Yang bisa menghibur, dialah yang disukai banyak orang.Tak sedikit kini film yang berbau horor penyesatan, sinetron yang mncerminkan hedonisme dan khayalan, lagu2 dengan lirik mesum dan ‘mengundang’, majalah yang menawarkan konsumerisme, buku atau novel yang menyimpan paham-paham ‘kesetaraan’, dan yang paling aneh lagi, cerita para selebriti yang menjadi gosip penting karena ekspose-nya yang luas.

Dan pernahkah kita menyadari bahwa terpaan ‘hiburan’ tersebut menimpa kita setiap hari, bahkan setiap jam. Mulai dari pola pikir, tindakan, sampai pada cara memaknai hidup kita dengan rela dikendalikan oleh terpaan nilai tersebut. Rutinitas kehidupan manusia hampir selalu bersentuhan dengan hiburan. Alasan, bentuk, dan hasil dari hiburan selalu begitu-begitu saja. Ada ciri khas yang lalu melekat. Semakin menyedihkan bila ternyata ciri khas tersebut adalah ciri negatif. Apakah kita tengah berkubang dan tak ingin keluar?

Saya bukan orang yang selalu serius atau tidak membutuhkan hiburan. Tapi setidaknya saya masih berusaha menggunakan akal sehat dalam mengkonsumsi hiburan yang sekarang diobral dengan sangat murah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s