Missing Identity

Bukan posting pertama tentang kehilangan identitas. Bermacam alasan, bermacam cara, dan bermacam tujuan. Kehilangan identitas tak hanya terjadi karena ketidaksengajaan, tetapi juga karena sengaja menjauhkan diri dari identitas awalnya.

Ehm, saya percaya setiap orang punya pandangan diri sendiri tentang hidupnya. Tergantung jati diri yang mana yang ia temukan dan kemudian berpengaruh pada kehidupannya. Dan setiap faktor pun berbeda aplikasinya pada setiap individu.

Jati diri berjilbab pun demikian. Sebagian muslimah memilih jilbab sebagai penutup aurat dengan sempurna, sebagian karena terpaksa, sebagian lagi karena kebutuhan fashion. Tidak sedikit muslimah zaman sekarang yang masih ingin tetap menjadi pusat perhatian sekalipun telah mengenakan jilbab.

Saya juga masih belajar menggunakan jilbab dengan baik. Tapi saya cukup kecewa berpindahnya identitas jilbab demi kesan nyaman, modis, modern, bisa dikenakan di berbagai kesempatan, dst. Jilbab menjadi barang yang bisa dikompromikan dengan segala situasi. Anda tentu tahu benar tentang salah satu komunitas pemakai jilbab (modis), atau pernah juga lihat calon girlband yang semua personelnya berjilbab (lagunya tetap asik dan ajeb2..). Seakan2 menggebrak batasan2 yang selama ini melekat pada sosok muslimah berjilbab. “Pake jilbab bisa tetap gaya dan berkarya kok…”. Kata saya kok, dua misal tadi justru mengoyak2 identitas jilbab sesuai tuntunan islam ya.. Kata Anda bagaimana?

Memang jilbab tidak selamanya menjadikan kita dengan mudah menilai kepribadian seorang muslimah. “Yang penting jilbab hati…” katanya. Tapi sadarkah bahwa aurat tidak pernah bisa tertutup dengan sholat, puasa, berbuat baik pada sesama, atau berkepribadian positif.. Ya, aurat hanya dapat ditutup dengan pakaian yang sempurna. Kalimat yang beberapa waktu lalu mengingatkan saya betapa agungnya identitas jilbab itu.

Jilbab, bagian dari Islam. Islam telah mengatur secara jelas bagaimana kriteria2 yang harus kita kejar untuk menjadi hamba pilihan. Dan jelas, kriteria2 berdasarkan Qur’an dan Sunnah tidak dapat lagi disebut kriteria bila sudah jauh dari kedua dasar tersebut.

Silakan pilih, bangga dengan identitas agama, atau bangga karena identitas lain yang mengatasnamakan agama..? Allohu’alam.

6 responses to “Missing Identity

  1. Sungguh kukira njenengan kehilangan KTP baru-nya. *habis dari kemaren yang dibahas e-ktp*
    Eh, memangnya ada ya girlband yang pake jilbab dan ajeb2? *maklum gak ada teve*

    • mumpung lagi musim e-ktp, dengan beberapa kontroversinya to, terbitlah postingan e-ktp..

      ada lho… mereka membawa visi yang ‘dalem’,.. biar berjilbab, tetap bisa berprestasi…hehehe.. sepakat ga dengan visi mereka??
      * kapan2 gugel aja -ajang pencarian bakat boy dan girlband- 🙂

  2. Bener banget, kira-kira yang bener memakai jilbab karena ngerti pemahaman Islam masih berapa % ya? Karena banyak perempuan memakai jilbab kadang malah bergaya je, atas berjilbab tapi bawahnya seperti baju tidur..

  3. baru bbrp hari yang lalu ngonsep tulisan ttg girlband itu.mo protes! itu loh,kasian yg pake jilbab trus berusaha memperbaiki sikap dan akhlaknya. lha adek2 itu kok dg pedenya “pccl” di tipi.haduh…

  4. @ ikhsan
    iya mas.. hehe

    @ Pak RD
    hmmm, yang tahu ya wajib mengamalkan..ya begitulah dulu jilbab dicerca, sekarang diperlakukan tidak semestinya..

    @ tita
    he2.. katanya berkarya tu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s