Siklus Alami Rasa Bioteror

Serangga Tomcat tiba2 jadi seleb di tivi dan koran beberapa hari terakhir. Ekspose-nya tidak tanggung2, sehingga semua menjadi heboh. Tidak seperti tahun2 sebelumnya yang katanya sudah terjadi serangan Tomcat ke manusia. Perbincangan seputar Tomcat pun menghiasi hampir semua talkshow berita.

Tomcat tidak menyerang manusia. Gigitan Tomcat bisa dicegah dengan tidak melukainya. Tomcat jangan dibasmi karena diperlukan dalam ekosistem manusia. Tomcat memasuki permukiman karena habitatnya terganggu. Lalu apalagi?? Tapi di saat yang sama masyarakat dihadapkan dengan informasi bahwa cairan Tomcat berbahaya dan akan meninggalkan bekas luka permanen di kulit. Persebarannya sangat cepat dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Racun Tomcat mencapai 15 kali bisa ular kobra, dst.

Istilah outbreak atau ledakan populasi (yang baru saja saya tau barusan) juga dialami oleh ulat bulu beberapa waktu lalu. Masyarakat di berbagai daerah terancam penyerangan dari makhluk hidup kecil hingga mengganggu aktivitas mereka. Bukan tidak mungkin timbul pula trauma.

Kemunculan serangga Tomcat atau ulat bulu sama2 terjadi dengan pola penyebaran yang singkat dan cepat. Cukup ‘menyibukkan’ warga, tenaga medis, peneliti, pejabat, dan tentu saja media. Kita nanti2kan perkembangan beritanya setiap pagi.

Yang mengherankan, bagaimana hewan2 sekecil itu bisa menyebar dengan cepat dan meluas jangkauannya. Apakah para Tomcat mengadakan konferensi nasional sebelumnya untuk mengadakan demonstrasi karena habitat mereka dirusak manusia? Atau mungkin mereka naik pesawat dan menyebar ke berbagai daerah di Indonesia? Canggih juga…🙂

Entah benar atau tidak teori bioteror seputar kemunculan ulat bulu dan tomcat di Indonesia, masyarakat telah tercekam rasa khawatir dan terpengaruh kehidupannya. Entah siklus alami atau dibuat2, ‘mempermainkan’ sisi psikologis seseorang dengan pengalaman dan tekanan visual dari media merupakan cara yang ampuh untuk ‘mengendalikan’. Allohu’alam.

 

 

4 responses to “Siklus Alami Rasa Bioteror

    • tulisan di atas memang tanda tanya.
      belum nemu telaahan yang kayak gt jeh…
      adanya cuma di indonesia po ndak sih..😉

      • Dari beberapa yang tak baca sih sakjane tiap tahun ki jumlahe podho wae. Lagi pula dua minggu yang lalau aku digigit sama hewan semacam itu yo nyatane gak sakit apa-apa. Apa karena aku sakti mandraguna ya? *wkwkwk..

      • hehe, njuk siapa yang dengan tega membiarkan biantang2 tak berdosa menjadi monster..??
        ditangkap lalu disebar ke permukiman warga..

        kulit dan darah njenengan pait sih, nahdhi…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s