Berani Melangkah, Kapan Yaa??

Tulisan bagi para jomblowan dan jomblowati (lagi). Saya tambahkan kata ‘lagi’ karena memang bukan pertama kali ini saya mem-post tentang tema serupa. Silakan jalan2 untuk menemukan yang lainnya.. he2..

Yuk mari! Membicarakan tentang yang dicari sebelum melangkahkan kaki ke titian kehidupan yang lebih berisiko. Kemantapan hati. Hal ini menentukan kapan tepatnya kita berani melangkah, ikhtiar. Bukan menentukan kapan kita siap menjadi sukses meniti fase sakral, pernikahan.

Definisi titian kehidupan yang lebih berisiko untuk pernikahan tadi sesungguhnya tidak selalu tepat. Tergantung sudut pandang seperti apa yang kita gunakan. Mau menganggap sebagai beban atau tidak. Mau melanggengkan anggapan bahwa menikah adalah pengekangan kreativitas dan berekspresi juga bersenang-senang? Atau menganggapnya sebagai sarana optimalisasi potensi jiwa raga dan kecerdasan?

Saya agak tidak sreg dengan sebuah frasa ‘mumpung masih sendiri….’. Seolah-olah ada palang pintu bertuliskan ‘bahaya’ antara status sendiri dengan sudah berkeluarga. Diakui bahwa memang terdapat perbedaan rutinitas antara orang yang telah berkeluarga dan yang masih sendiri saja. Tapi menyamakan arti kesendirian dengan kebebasan agaknya kurang bijak. Nanti lama2 kemudian tercetak generasi yang enggan diatur.

Kemantapan hati tidak akan dapat didapatkan sekadar sengan teori. Belajar dengan praktik dibekali dengan ilmu yang cukup disempurnakan dengan niat ikhlas karena Alloh merupakan rumus yang pas sebagai pembentuk kemantapan hati.

Jadi bagaimana? Tidak pernah lelah untuk menjalankan rumus kemantapan hati sejak awal sampai nanti2 setelah sampai pada kehidupan rumahtangga yang sebenarnya. Menanamkan kepada diri bahwa tidak ada hal yang benar2 sulit kalau ilmu dan iman sudah di tangan.

Saya pribadi sih tidak termasuk yang berpandangan muluk2. Tidak perlu calon pendamping yang ‘manajer’ kalau tidak bisa empati dengan kerapian rumah. Tidak perlu calon pendamping yang ‘manajer’ kalau tidak bisa memberi perhatian nonmaterial kepada orang2 yang dikasihinya.

Sekalipun yang menulis juga belum memiliki dasar empiris, semoga postingan ini tetap bisa bermanfaat bagi saudara-saudari yang belum manstep dan berani melangkah. Padahal punya sudah punya beberapa potensi yang eman2 bila tak diberdayakan. Yuk…yuk..!🙂

2 responses to “Berani Melangkah, Kapan Yaa??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s