Belajar Menjadi Sederhana

Hidup di masa kini entah di pusat kota metropolitan atau di kampung khas pedesaan, selalu saja ada yang dikejar oleh manusia. Mengejar kebutuhan hidup agar dapat dikatakan diri dan keluarga sejahtera. Ehm, sejak dulu ding ya.. bukan belakang2an ini saja. Ya memang sejak manusia ada, kodratnya punya kebutuhan jasmani dan rohani. Akan tetapi rasa2nya kini kita semakin sibuk mengejar2 kebutuhan seiring ketatnya persaingan antarmanusia dan perubahan zaman.

Dari kebutuhan jasmani dulu, yang kelihatan di depan mata. Manusia dari dulu memang perlu sarana transportasi, komunikasi, informasi. Tapi coba dirasakan sekarang. Dulu punya tidak punya hape, tidak ada mobil berfasilitas mewah, tidak ada internet, sepertinya tidak masalah. Sekarang?

Lain lagi kebutuhan rohani, yang tidak kelihatan. Tampaknya sekarang kebutuhan rohani yang paling dibutuhkan (halah.. muter2 jadinya..) adalah eksistensi. Makanya semakin ketat persaingan untuk menonjolkan diri dengan apa yang dimiliki. Pengakuan dari orang lain sesuai dengan ego kita. Ya, sekarang narcisism bukan hal aneh lagi.

Buat saya, tidak mudah menjadi sosok yang biasa2 saja saat ini. Bahkan perlu belajar dengan proses bertahap dan membutuhkan kesungguhan hati seseorang. Sebab secara naluri, seseorang malah sekarang lebih mudah menjadi ‘macam2′ karena dukungan berbagai fasilitas mutakhir daripada menjadi bijak dalam menyikapi perubahan di kanan dan di kiri.

Lebih mudah untuk menjadi lalai, melihat ke atas terus tanpa lelah, daripada menyempatkan diri untuk peduli kepada yang di bawah lalu bersyukur. Hmm, memang mungkin perlu ilmu khusus untuk menjadi seseorang yang tawadhu’. Merasa cukup dengan apa yang dimiliki secara jasmani dan rohani setelah maksimal berusaha.

Menjadi sederhana tidak terlalu banyak memerlukan energi. Karena dengan menjadi sederhana (dengan prinsip ilmu dan iman) akan memudahkan diri untuk bersikap. Sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai teman, sebagai tetangga, sebagai karyawan, sebagai hamba Alloh juga pastinya.

4 responses to “Belajar Menjadi Sederhana

  1. Nek menurut saya, saat ini orang lebih mudah menjadi lupa itu juga diimbangi dengan orang lebih mudah menjadi ingat. Begitupun dengan lalai, orang lebih mudah menjadi lalai tetapi juga menjadi mudah untuk sadar. Perubahan zaman yang mempermudah itu hanya kondisi mbak, tetapi lalai dan sadar itu sifat manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s