Yang Buat Galau dan Bahagia

happinessMenjadi seorang istri dan ibu ternyata tak semudah memimpikannya. Teringat dahulu begitu ngebet-nya minta izin diresmikan oleh kedua orang tua dan keluarga calon. Seolah tidak jenuh menghitung hari-hari menuju tanggal yang telah disepakati. Dalam hati sudah mendamba profesi baru sebagai istri dan ibu. Kalau sudah menjadi istri, aku akan begini begini. Jika sudah menjadi ibu, aku akan begitu begitu. Mirip sekali dengan kebahagiaan seorang mahasiswa baru yang berhasil masuk di program studi idaman membayangkan pekerjaan selepas lulus kuliah. Ternyata setelah sarjana, tak berminat sama sekali terjun di bidangnya. (ngomongke awake dhewe juga… :p)

Namun menjadi seorang istri dan ibu jangan sampai disamakan dengan memilih pekerjaan pada umumnya. Sama sekali berbeda. Tentu sebagian besar muslimah (harusnya) mengetahui bahwa kedua posisi tersebut berada pada wilayah ilahiyah. Posisi yang tanggung jawabnya langsung kepada Alloh. Mengetahui bahwa sedapat mungkin ‘teori’ harus dapat diaplikasikan secara menyeluruh dalam usahanya menjalankan kewajiban. Menjadi istri dan ibu tidak mengenal kata memilih.

Ada dua sumber kegalauan sekaligus kebahagiaan yang saya dapati selama menjalankan amanah ibu rumah tangga selama ini. Ya, suami dan anak yang baru satu itu. Galau bila suami sedang sibuk2nya atau si kecil sakit. Bahagia jika suami sangat kooperatif dan si kecil sehat dan sholih. Di waktu galau saya berusaha untuk menstabilkan emosi dan pikiran yang kadang sulit diajak selaras. Yang paling sulit adalah mengendalikan diri untuk tidak ‘ceramah’ yang tidak jelas. Di saat bahagia saya sangat lega telah melalui masa-masa sulit. Ketika itulah saya memahami pentingnya bersyukur dan pasrah pada Alloh setiap saat.

Berumah tangga adalah bagian dari perjalanan hidup yang dilewati dengan roda. Ada kalanya di atas, ada kalanya pula di bawah. Tidak akan pernah sampai jika roda tersebut terus berada di atas atau sebaliknya. Masa-masa sulit pasti ada, sebaliknya kebahagiaan harus ‘diciptakan’ oleh diri kita sendiri-sendiri. Semoga saya selalu ingat pesan ibunda setelah akad nikah dulu, “Minta tolonglah selalu sama Alloh, ya!”

Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a’yunin waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa (QS. Al-Furqan 74)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s