Anak-anak Penebar Kebencian

LcdogyLniSaya sengaja memberi judul post yang sedikit menyeramkan. Layaknya sebuah judul novel, sinetron, atau cerita fiktif sejenis yang termuat di media. Membuat sebagian besar orang penasaran dengan isinya. Sayangnya ini bukan cerita fiksi, melainkan kenyataan yang sering terjadi di sekitar kita.

Anda sering mendengar istilah bullying? Saya belum tahu padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk kata tersebut. Bisa berarti pelecehan, penekanan, pencemoohan, atau sejenisnya. Kata yang mengacu pada perlakuan negatif dari seseorang untuk kepada orang lain untuk menunjukkan superioritasnya. Bullying dekat dengan dunia anak-anak dan remaja tampaknya. Namun tidak sedikit mereka yang telah berusia dewasa mengalami penekanan-penekanan serupa. Entah dari keluarga, atau masyarakat di mana ia berada.

Yang ingin saya tulis adalah bullying pada anak-anak, di mana  Zal, amanah kami juga mengalaminya. Pelakunya tak lain si anak penebar kebencian itu. Maaf bila kata penyebutan saya agak kasar. Saya istilahkan demikian karena ciri fisik dan mentalnya yang memang mengarah kepada kebencian. Ceritanya Zal sudah mulai senang main sendiri. Sebagai anak yang termasuk ceriwis, ingin tahu, dan belajar berani, ia berkenalan dengan beberapa anak tetangga lebih dekat. Seorang gadis cilik yang juga masih balita lama-lama jengkel dengan Zal yang sering bertanya berulang-ulang. Setelah itu, setiap kali bertemu, ia selalu memelototkan mata, melontarkan kata-kata sinis, dan membujuk teman-teman sebaya untuk menjauhi Zal.

Sebagai seseorang yang belum lama menjadi orang tua, saya agak heran. Bagaimana anak sekecil itu bisa begitu lama mendendam dan memperagakan bahasa tubuh yang sangat menghayati kebenciannya? Saya pikir seumuran dia yang masih balita mestinya masih bersih, lugu, polos. Jikapun marah akan mudah melupakan. Jikapun ada ekspresi fisik sebatas gerakan gemas kekanakan.

Teringat pada pelajaran dari salah satu senior saya dalam hal parenting. Anak hanya akan meniru. Meniru ucapan, gerakan, ekspresi, sikap, kebiasaan dalam keluarga intinya. Tengok punya tengok, si gadis cilik ternyata mendapat perlakuan kurang bersahabat dari orang tuanya sendiri dan kakak-kakanya. Selain itu ia tumbuh dalam keluarga berada yang kemungkinan besar mendapat terpaan informasi dari berbagaii media massa sejak dini. Baik atau  tidak, sesuai usia atau tidak, disaring dahulu atau tidak. Ketika tidak berdaya menerima bullying dari orang tua, ia melampisakannya pada teman-teman yang terlihat lebih lemah dari dirinya. Ini baru sebuah kasus di depan mata, belum lagi jutaan anak-anak penebar kebencian di luar sana.

Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassalam mengingatkan pada umatnya untuk menahan marah. Sebab marah berasal dari hawa nafsu yang sangat rawan dikipasi oleh syaitan. Sesuatu yang terkadang lebih sulit dilakukan daripada menahan lapar atau sakit. Manusia pasti merasakan sulitnya menahan amarah termasuk pada buah hati yang lahir dari rahim sendiri.

Pilihan kembali pada kita sebagai orang tua. Menganggap sikap ‘nakal’ anak sebagai sesuatu yang lumrah, atau memaksimalkan diri untuk melindungi anak dari bullying dengan tidak menjadi penyebab bullying itu sendiri.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s