Kecil-kecil Sudah Sekolah

12352602-children-learning-the-alphabet-stock-vector-alphabet-cartoon-childBismillah.

Rasanya sulit betul menjaga keistiqomahan dalam posting di blog pribadi. Sulitnya itu ada pada kesanggupan ‘menyingkirkan’ rutinitas2 harian. Segala sesuatu yang memang sudah menjadi jobdesc sebagai fulltime mother n housewife. Halahh…

Masih di kategori Belajar Parenting, tulisan kali ini beloknya ke dunia sekolah. Putra-putri njenengan masuk sekolah usia berapa buk? Sekolah yang saya maksut adalah tempat di mana anak2 balita atau batita belajar bersama teman2 sebaya di bawah asuhan pendidik, guru, dstttt. Belajar sambil bermain, bermain sambil belajar, bermain di tempat belajar, atau belajar di tempat bermain. 

Mau tidak mau njenengan akan mengatakan kalimat yang sama dengan postingan saya kali ini. Banyak di antara anak2 kita sudah sekolah di usia yang demikian belia, Dari bebi mungkin, karena disambi bundanya kerja. Dulu mungkin bekal anak ke sekolah sebatas makanan dan minuman ramuan ibu, atau sekadar uang jajan dari ayah. Sekarang di tas mereka ada baju ganti sekalian sama popok disposable. Biar ndak ngompol sembarangan.

Pelajarannya sesuai usia. Mereka yang masih batita baru bermain2 saja di sekolah. Di atas tiga tahun baru dikenalkan baca tulis hitung. Leres njih buk? Pengajar pun dituntut telaten menemani aktivitas mereka. Pagi hingga siang, bahkan sore untuk yang daycare. Sampai di rumah, kecil2 ini biasanya sudah rapi dan bersih bagi yang ada layanan dimandiin juga.

Pembelajaran anak di usia dini memang demikian kompleks. Dari fisik, mental, spiritual, emosional, dst, dkk. Makanya kehadiran lembaga2 pendidikan anak usia dini di negeri kita begitu besar manfaatnya. Saya pribadi tidak memungkiri itu. Mungkin saja ada di antara kita, ummahat, yang tidak memiliki kesempatan dan (nuwun sewu) kemampuan untuk mendidik buah hati secara langsung. Misalkan mengajarinya membaca atau sholat.

Alasan yang muncul adalah keadaan keluarga, perasaan tidak percaya diri, atau gengsi. Yang pertama mungkin karena sang ibu single parent sehingga ia harus meninggalkan sang anak untuk bekerja. Kedua, perasaan tidak mampu mendidik sendiri dengan anggapan ‘anak saya susah diatur’ atau ‘saya hanya lulusan SD’. Ketiga, karena sang ibu merasa ketinggalan jika anaknya belum sekolah seperti kawan2 seusianya.

Saya pernah terjebak pada alasan ketiga. Kanan kiri, saudara dan tetangga sering menanyakan apakah Zal saya yang usianya jelang tiga tahun sudah sekolah. Saat itu saya agak menyayangkan daerah tempat kami merantau begitu jarang terdapat lembaga pendidikan anak usia dini. Tidak seperti daerah asal kami yang memang telah maju pengelolaan PAUDnya. Teman2 sebaya bahkan yang usianya di bawah Zal tetangga mbahe sudah sekolah.

Alhamdulillah saya segera sadar. Nemu tulisan di www.ummiummi.com dan nemu akun FB nya mbak Miftahul Jannah. Ternyata saya tidak bisa menggunakan tiga alasan di atas. Alhamdulillah suami saya masih diberi kemudahan dalam menjemput rizki sendirian. Alhamdulillah saya bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Dan Alhamdulillah saya mau belajar membesarkan kepercayaan diri untuk mendidik Zal sendiri hingga minimal usia TK.

Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya bukan? Saya yang mestinya meng-upgrade diri agar bisa mengiringi usia emasnya. Bukan memaksakan Zal yang masih sangat betah di rumahnya untuk masuk sekolah. Zal masih bisa belajar dan bermain dengan ayah dan ibunya tercinta selama dia inginkan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s